Setelah menjalani kampanye Premier League yang mengecewakan musim lalu, dengan hanya mampu duduk di peringkat 8 klasemen, yang berujung kepada pemecatan Kenny Dalglish yang kemudian digantikan oleh Brendan Rodgers. Di tengah kontroversi penggantian manajer ini, banyak harapan baru kemudian bertumpu ke pundak Brendan Rodgers.
Brendan Rodgers oleh banyak kalangan, dan mungkin terutama oleh FSG (Fenway Sport Groups), dianggap merupakan pelatih visioner yang cocok untuk mengemban tugas sebagai manajer Liverpool yang baru. Brendan Rodgers diharapkan mampu memberikan angin segar dan permainan menarik di Liverpool.
Tes pertama untuk Rodgers adalah permainan tandang di markas WBA, The Hawthorns, yang berakhir sangat mengecewakan dengan kekalahan 3-0 untuk Liverpool. Rasanya masih terlalu dini untuk menilai kinerja Brendan Rodgers dan permainan Liverpool, namun jujur juga sulit untuk tidak mengindahkan hasil ini begitu saja.
Liverpool sebetulnya mengawali pertandingan cukup baik, permainan umpan-umpan pendek khas Rodgers mulai bisa diperlihatkan oleh Liverpool di babak pertama. Di lain pihak beberapa hal yang cukup menjadi perhatian di musim lalu juga masih terjadi, yaitu kurangnya kemampuan lini depan Liverpool untuk mencapai target, dan juga kurang tenangnya tim saat menguasai bola. Tim sepertinya masih terlalu tergesa-gesa dan terlalu mudah mencoba umpan silang ketika menghadapi kebuntuan di lini pertahanan WBA. Pertahanan disiplin WBA juga perlu diacungi jempol di sini, namun Liverpool sendiri juga terlalu terburu-buru dan kurang sabar untuk membongkar pertahanan WBA.
Hal yang cukup mengejutkan juga adalah permainan Gerard yang cenderung kurang memuaskan dan rasanya sedikit 'wasteful'. Gol pertama WBA tercetak berawal dari kesalahan Gerard dalam memberikan umpan yang terlalu ambisius. Dan ini terjadi beberapa kali yang cukup menjadi perhatian bila Rodgers ingin memainkan 'tiki-taka' ala Spanyol di sini.
Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa Liverpool tidak bisa bergantung dari Suarez seorang untuk mencetak gol. Suarez menurut hemat saya adalah pemain yang bagus untuk membantu membongkar barisan pertahanan lawan, tapi mungkin bukan tipikal goal scorer murni, apalagi diplot sebagai lone striker. Suarez butuh bantuan dari kedua sayap seperti Borini, Downing, dan juga lini tengah seperti Gerrard. Pergerakan di final third tetap menjadi pe-er untuk Liverpool.
Terlepas dari beberapa keputusan yang cukup merugikan Liverpool, terutama pinalti yang diberikan di babak kedua dan kartu merah Agger, Liverpool memang tampil kurang memuaskan. Bila tidak ada peningkatan tantangan kedua nanti menghadapi City bisa kembali menjadi malam untuk dilupakan.
Monday, August 20, 2012
Wednesday, February 15, 2012
Poin Penting Dua Pertemuan Terakhir Liverpool ManU
Di ajang Piala FA, Liverpool unggul 2-1 di kandang melawan ManU, dan kemudian ManU berhasil membalas dengan kemenangan 2-1 di Liga Inggris di Old Trafford pekan lalu. Ada beberapa poin menarik dalam dua pertandingan ini.
Pilihan Formasi & Kejelian Ferguson
Dalam dua kali pertemuan ini, Liverpool memilih menggunakan formasi 4-1-4-1. Meskipun secara umum formasi yang digunakan hampir sama dalam kedua pertandingan tersebut namun ada beberapa hal mendasar yang cukup berbeda, terutama dalam pilihan pemain dan pergerakan pemain. MU di lain pihak memilih menggunakan formasi mendekati 4-3-3 di ajang FA, dan kali ini memilih memainkan formasi standarnya, yaitu 4-4-1-1 dengan Rooney yang pulih dari cedera.
Dalam pertemuan pertama, Kenny Dalglish memilih menempatkan Carragher sebagai DM di dalam formasi 4-1-4-1, yang tidak efektif dan kemudian digantikan di babak kedua. Namun di pertemuan berikutnya, Kenny memilih menggunakan Jay Spearing. Ini pilihan yang wajar, karena Jay Spearing yang merupakan pemain natural untuk posisi DM, tentu merupakan opsi yang lebih baik dibandingkan Carragher.
Dalam pertemuan di piala FA, meskipun berakhir dengan kekalahan MU, namun perlu digarisbawahi bahwa secara keseluruhan MU boleh dibilang lebih menguasai jalannya permainan. Hal ini tentu juga dibaca oleh kedua pelatih, namun dengan kesimpulan dan pilihan yang berbeda. Menyadari bahwa MU cukup unggul dalam penguasaan bola di pertemuan pertama, padahal di kandang Liverpool, maka saat di Old Trafford, MU memilih memainkan formasi dasarnya 4-4-1-1, yang meskipun sangat boleh jadi karena adanya Rooney, yang cocok dalam formasi ini. Liverpool di lain pihak, memilih tetap menggunakan 4-1-4-1 dengan kembalinya Spearing.
Boleh jadi, Kenny memilih formasi 4-1-4-1 sebagai counter dari formasi 4-4-1-1 MU. Ini sebetulnya pilihan yang masuk akal, mengingat penguasaan bola dari MU yang lebih baik di pertemuan sebelumnya, dan secara teoritis 4-1-4-1 seharusnya dapat meredam 4-4-1-1, minimal di atas kertas.
Di sinilah kejelian Fergie dalam membaca lawan patut diapresiasi. Liverpool nyaris tidak memliliki gelandang bertahan lain selain Spearing yang cukup bisa diperhitungkan saat ini, tipis kemungkinan Liverpool akan memainkan lebih dari satu gelandang bertahan. Menyadari hal ini, Fergie memilih menempatkan Valencia dan Giggs sebagai gelandang sayap. Valencia seperti di pertandingan pertama ditempatkan di posisi kanan luar, nyaris selalu berada di garis kanan lapangan MU. Dan persis seperti pertandingan pertama Enrique berulangkali dibuat kerepotan oleh penempatan Valencia ini.
Namun yang lebih menarik adalah penempatan Giggs kali ini. Giggs ditempatkan di sayap kiri, namun ketika menguasai bola Giggs lebih sering beroperasi ke tengah, nyaris sejajar dengan Rooney di belakang striker. Hal ini menimbulkan situasi 2v1 yaitu Giggs+Rooney vs Spearing. Situasi ini menjadi dilematis untuk Spearing dan Liverpool. Bila Spearing menjaga Giggs, maka Rooney bebas, dan bila Enrique bermain ke dalam untuk menjaga Rooney, maka Valencia menjadi bebas. Sebaliknya juga bila Spearing menjaga Rooney, maka Giggs bebas, dan bila Johnson menjaga Giggs, maka Liverpool juga akan kehilangan satu opsi untuk menyerang ke depan, mengingat daya offensive Johnson juga diperlukan.
Di lain pihak, formasi 4-1-4-1 adalah formasi yang rigid, di mana formasi ini menuntut pergerakan yang relatif kaku dan terpola. Formasi 4-1-4-1 umumnya harus bergerak maju teratur dengan umpan-umpan pendek dari kaki ke kaki dari belakang. Dalam hal ini pilihan Fergie untuk "mengurung" Spearing menjadi sangat masuk akal dan pilihan yang jitu. Dengan terkurungnya Spearing, otomatis pola 4-1-4-1 juga kehilangan efektivitasnya.
Saya tidak begitu mengerti kenapa di babak kedua Kenny memilih untuk tetap memainkan formasi ini, yang jelas didominasi oleh MU. Akan lebih baik mungkin bila Gerrard diplot sedikit lebih ke belakang dalam formasi mendekati 4-2-3-1 untuk menetralisir ancaman dari Rooney dan Giggs. Dalam formasi ini Enrique juga bisa bebas mengawal Valencia.
Tidak Dimaksimalkannya Keunggulan Dalam Bola Mati & Kelemahan De Gea
Dalam pertemuan di piala FA, terutama di babak pertama, berulang kali dalam bola-bola mati pemain Liverpool selalu menekan De Gea, dan ini cukup manjur dengan satu gol yang berhasil dicetak oleh Agger. Entah kenapa di babak kedua hal ini tidak dilakukan dan juga dalam pertemuan berikutnya hal ini kembali tidak dilakukan oleh Liverpool.
Kelemahan De Gea dalam bola mati dan dalam bola-bola atas tidak dieskploitasi oleh Kenny, padahal Liverpool memiliki keunggulan dalam kedua hal tersebut. Malahan Carrol tidak dimainkan dari awal dan baru dimasukkan di pertengahan babak kedua. Padahal gol kedua Liverpool di pertemuan sebelumnya tercipta berkat kejelian dan keunggulan Carrol dalam bola-bola atas yang menciptakan peluang untuk Dirk Kuyt.
Pilihan Formasi & Kejelian Ferguson
Dalam dua kali pertemuan ini, Liverpool memilih menggunakan formasi 4-1-4-1. Meskipun secara umum formasi yang digunakan hampir sama dalam kedua pertandingan tersebut namun ada beberapa hal mendasar yang cukup berbeda, terutama dalam pilihan pemain dan pergerakan pemain. MU di lain pihak memilih menggunakan formasi mendekati 4-3-3 di ajang FA, dan kali ini memilih memainkan formasi standarnya, yaitu 4-4-1-1 dengan Rooney yang pulih dari cedera.
Dalam pertemuan pertama, Kenny Dalglish memilih menempatkan Carragher sebagai DM di dalam formasi 4-1-4-1, yang tidak efektif dan kemudian digantikan di babak kedua. Namun di pertemuan berikutnya, Kenny memilih menggunakan Jay Spearing. Ini pilihan yang wajar, karena Jay Spearing yang merupakan pemain natural untuk posisi DM, tentu merupakan opsi yang lebih baik dibandingkan Carragher.
Dalam pertemuan di piala FA, meskipun berakhir dengan kekalahan MU, namun perlu digarisbawahi bahwa secara keseluruhan MU boleh dibilang lebih menguasai jalannya permainan. Hal ini tentu juga dibaca oleh kedua pelatih, namun dengan kesimpulan dan pilihan yang berbeda. Menyadari bahwa MU cukup unggul dalam penguasaan bola di pertemuan pertama, padahal di kandang Liverpool, maka saat di Old Trafford, MU memilih memainkan formasi dasarnya 4-4-1-1, yang meskipun sangat boleh jadi karena adanya Rooney, yang cocok dalam formasi ini. Liverpool di lain pihak, memilih tetap menggunakan 4-1-4-1 dengan kembalinya Spearing.
Boleh jadi, Kenny memilih formasi 4-1-4-1 sebagai counter dari formasi 4-4-1-1 MU. Ini sebetulnya pilihan yang masuk akal, mengingat penguasaan bola dari MU yang lebih baik di pertemuan sebelumnya, dan secara teoritis 4-1-4-1 seharusnya dapat meredam 4-4-1-1, minimal di atas kertas.
Di sinilah kejelian Fergie dalam membaca lawan patut diapresiasi. Liverpool nyaris tidak memliliki gelandang bertahan lain selain Spearing yang cukup bisa diperhitungkan saat ini, tipis kemungkinan Liverpool akan memainkan lebih dari satu gelandang bertahan. Menyadari hal ini, Fergie memilih menempatkan Valencia dan Giggs sebagai gelandang sayap. Valencia seperti di pertandingan pertama ditempatkan di posisi kanan luar, nyaris selalu berada di garis kanan lapangan MU. Dan persis seperti pertandingan pertama Enrique berulangkali dibuat kerepotan oleh penempatan Valencia ini.
Namun yang lebih menarik adalah penempatan Giggs kali ini. Giggs ditempatkan di sayap kiri, namun ketika menguasai bola Giggs lebih sering beroperasi ke tengah, nyaris sejajar dengan Rooney di belakang striker. Hal ini menimbulkan situasi 2v1 yaitu Giggs+Rooney vs Spearing. Situasi ini menjadi dilematis untuk Spearing dan Liverpool. Bila Spearing menjaga Giggs, maka Rooney bebas, dan bila Enrique bermain ke dalam untuk menjaga Rooney, maka Valencia menjadi bebas. Sebaliknya juga bila Spearing menjaga Rooney, maka Giggs bebas, dan bila Johnson menjaga Giggs, maka Liverpool juga akan kehilangan satu opsi untuk menyerang ke depan, mengingat daya offensive Johnson juga diperlukan.
Di lain pihak, formasi 4-1-4-1 adalah formasi yang rigid, di mana formasi ini menuntut pergerakan yang relatif kaku dan terpola. Formasi 4-1-4-1 umumnya harus bergerak maju teratur dengan umpan-umpan pendek dari kaki ke kaki dari belakang. Dalam hal ini pilihan Fergie untuk "mengurung" Spearing menjadi sangat masuk akal dan pilihan yang jitu. Dengan terkurungnya Spearing, otomatis pola 4-1-4-1 juga kehilangan efektivitasnya.
Saya tidak begitu mengerti kenapa di babak kedua Kenny memilih untuk tetap memainkan formasi ini, yang jelas didominasi oleh MU. Akan lebih baik mungkin bila Gerrard diplot sedikit lebih ke belakang dalam formasi mendekati 4-2-3-1 untuk menetralisir ancaman dari Rooney dan Giggs. Dalam formasi ini Enrique juga bisa bebas mengawal Valencia.
Tidak Dimaksimalkannya Keunggulan Dalam Bola Mati & Kelemahan De Gea
Dalam pertemuan di piala FA, terutama di babak pertama, berulang kali dalam bola-bola mati pemain Liverpool selalu menekan De Gea, dan ini cukup manjur dengan satu gol yang berhasil dicetak oleh Agger. Entah kenapa di babak kedua hal ini tidak dilakukan dan juga dalam pertemuan berikutnya hal ini kembali tidak dilakukan oleh Liverpool.
Kelemahan De Gea dalam bola mati dan dalam bola-bola atas tidak dieskploitasi oleh Kenny, padahal Liverpool memiliki keunggulan dalam kedua hal tersebut. Malahan Carrol tidak dimainkan dari awal dan baru dimasukkan di pertengahan babak kedua. Padahal gol kedua Liverpool di pertemuan sebelumnya tercipta berkat kejelian dan keunggulan Carrol dalam bola-bola atas yang menciptakan peluang untuk Dirk Kuyt.
Wednesday, January 04, 2012
Poin 4 Dari 3 Pertandingan Terakhir
Dengan hasil kalah - menang - imbang dari tiga pertandingan terakhir, pekan-pekan pergantian tahun 2011-2012 ini tidak mampu dilewati dengan cukup manis oleh Liverpool. Pertandingan terakhir, dengan kekalahan 3-0 dari Manchester City terasa cukup menyesakkan, namun di lain pihak seperti dinyatakan oleh Kenny Dalglish, kekalahan ini bisa dan harus menjadi pelajaran yang berharga untuk Liverpool.
Dua hal yang bisa dipetik dari pertandingan terakhir melawan City:
Lini Depan
Hilangnya Suarez cukup terasa kali ini, menghadapi tim kuat seperti City, meskipun menguasai bola jauh lebih banyak (sekitar 65%), namun penyelesaian akhir kembali menjadi kendala. Di samping itu meskipun menguasai bola namun serangan Liverpool terlihat agak monoton dan kurang variasi. Kembalinya sang kapten, Steven Gerrard, tentunya diharapkan untuk sedikit banyak memecahkan masalah ini. Di lain pihak, pemain lain seperti Downing, Kuyt, dan Carrol perlu meningkatkan permainannya dan terutama mengembalikan kepercayaan dirinya untuk kembali mencetak gol.
Dalam hal ini saya menilai bahwa faktor kepercayaan diri para pemain ini, terutama ketiga pemain tersebut, sangat mutlak untuk bisa kembali. Saya melihat bahwa para pemain ini memiliki kemampuan hanya seringkali kurang beruntung ditambah mungkin sedikit banyak kehilangan kepercayaan dirinya yang membuat mereka tidak bisa mencetak banyak gol, mengingat banyaknya peluang yang sebetulnya tercipta (hingga saat ini Liverpool termasuk tim yang paling banyak melakukan shoot ke gawang, 18x tembakan ke gawang rata-rata dalam tiap pertandingan). Saya tidak melihat bahwa Liverpool perlu untuk membeli pemain baru di lini depan, kecuali bila dia adalah pemain muda yang bisa menjadi asset di masa depan.
Lini Tengah
Tiadanya Lucas Leiva di sektor tengah kembali terekspos, kali ini oleh Manchester City. Spearing sebenarnya cukup bagus, namun masih kurang matang terutama dalam membaca arah permainan guna menjaga daerahnya. Kali ini saya benar-benar melihat bagaimana arti penting seorang Lucas Leiva di daerah ini. Berbeda dengan masalah lini depan, bila ada dana, saya menilai bahwa lebih baik Liverpool mencari gelandang bertahan dibandingkan mencari penyerang baru. Saya merasa ini lebih mendesak dan akan juga berguna untuk jangka panjang. Alternatif lain mungkin Liverpool bisa mencoba kembali untuk menggunakan dua gelandang bertahan dalam formasi semacam 4-2-3-1 atau justru meniadakan gelandang bertahan dan memainkan pola 4-4-2 direct.
Dua hal yang bisa dipetik dari pertandingan terakhir melawan City:
Lini Depan
Hilangnya Suarez cukup terasa kali ini, menghadapi tim kuat seperti City, meskipun menguasai bola jauh lebih banyak (sekitar 65%), namun penyelesaian akhir kembali menjadi kendala. Di samping itu meskipun menguasai bola namun serangan Liverpool terlihat agak monoton dan kurang variasi. Kembalinya sang kapten, Steven Gerrard, tentunya diharapkan untuk sedikit banyak memecahkan masalah ini. Di lain pihak, pemain lain seperti Downing, Kuyt, dan Carrol perlu meningkatkan permainannya dan terutama mengembalikan kepercayaan dirinya untuk kembali mencetak gol.
Dalam hal ini saya menilai bahwa faktor kepercayaan diri para pemain ini, terutama ketiga pemain tersebut, sangat mutlak untuk bisa kembali. Saya melihat bahwa para pemain ini memiliki kemampuan hanya seringkali kurang beruntung ditambah mungkin sedikit banyak kehilangan kepercayaan dirinya yang membuat mereka tidak bisa mencetak banyak gol, mengingat banyaknya peluang yang sebetulnya tercipta (hingga saat ini Liverpool termasuk tim yang paling banyak melakukan shoot ke gawang, 18x tembakan ke gawang rata-rata dalam tiap pertandingan). Saya tidak melihat bahwa Liverpool perlu untuk membeli pemain baru di lini depan, kecuali bila dia adalah pemain muda yang bisa menjadi asset di masa depan.
Lini Tengah
Tiadanya Lucas Leiva di sektor tengah kembali terekspos, kali ini oleh Manchester City. Spearing sebenarnya cukup bagus, namun masih kurang matang terutama dalam membaca arah permainan guna menjaga daerahnya. Kali ini saya benar-benar melihat bagaimana arti penting seorang Lucas Leiva di daerah ini. Berbeda dengan masalah lini depan, bila ada dana, saya menilai bahwa lebih baik Liverpool mencari gelandang bertahan dibandingkan mencari penyerang baru. Saya merasa ini lebih mendesak dan akan juga berguna untuk jangka panjang. Alternatif lain mungkin Liverpool bisa mencoba kembali untuk menggunakan dua gelandang bertahan dalam formasi semacam 4-2-3-1 atau justru meniadakan gelandang bertahan dan memainkan pola 4-4-2 direct.
Saturday, December 24, 2011
Pekan-pekan Sibuk Untuk Si Merah Dan Beberapa Alternatif
| Skrinsut jadwal pertandingan Liverpool dari website resminya |
Akhir tahun ini sampai dengan awal tahun depan akan menjadi pekan yang sibuk bagi tim-tim Liga Inggris, tak terkecuali tim kesayangan kita ini.
Dari sekilas skrinsut di sebelah, terlihat dalam kurun waktu 19 hari, Liverpool harus bertanding 6 kali, atau rata-rata bertanding sekali setiap 3.1 hari. Ini akan menjadi ujian untuk stamina dan kedalaman squad tim kita ini tentunya.
Lawan yang dihadapi pun terbilang cukup alot, terutama Newcastle & City yang akan dihadapi dalam ajang BPL tanggal 30 Des & 3 Jan nanti.
Dengan jadwal yang cukup padat seperti ini mau tak mau tentu KK harus merotasi pemain-pemainnya. Melihat pilihan starter musim ini memang KK sudah terbiasa melakukan rotasi, meskipun mungkin beberapa di antaranya rotasi terpaksa akibat cederanya beberapa pemain utama seperti Gerrrard, Carragher, dan terakhir Lucas. Ditambah kemungkinan jatuhnya larangan 8x bermain untuk Luis Suarez di awal tahun nanti, pekan-pekan ini akan menjadi pekan yang sangat berat untuk Liverpool. Meski demikian ada harapan positif bahwa Gerrard akan mulai bisa bermain dalam waktu dekat. Carragher sendiri sudah dalam kondisi yang baik meskipun masih sering di bangku cadangan karena baiknya performa Agger/Skrtel di jantung pertahanan Liverpool.
Dilema Pemain Depan
Tanpa larangan bermain untuk Suarez pun, sebetulnya Liverpool cukup kesulitan untuk menjebol gawang lawan, apalagi bila nanti Suarez dijatuhi larangan bermain. Di sisi lain bila Gerrard telah fit 100%, maka kemungkinan faktor hilangnya Suarez akan menjadi minimal bahkan bisa dibilang tidak terasa. Akan tetapi dengan atau tidak adanya Suarez masalah utama Liverpool di lini depan harus ada solusinya.
Apakah dengan kondisi ini lantas Liverpool harus berburu pemain depan baru? Beberapa nama mulai muncul dalam rumor yang berkembang belakangan ini. Namun pilihan untuk belanja pemain depan baru di jendela transfer Januari ini mungkin lebih baik menjadi pilihan terakhir. Pertama, nilai transfer pemain di jendela Januari biasanya melambung tinggi dan mengingat belanja yang telah dilakukan Liverpool sepanjang tahuni ini rasanya lebih baik bila kita tidak menambah belanja pemain baru kecuali bila memang harganya sangat masuk akal.
Hal kedua, rencana Liverpool kali ini adalah membangun kerangka tim untuk beberapa tahun ke depan. Ini sejalan dengan ambisi Liverpool yang "hanya" memasang target peringkat 4 untuk musim kompetisi kali ini. Atas dasar ini mungkin lebih baik bila KK memberi kesempatan untuk pemain-pemain yang ada terutama Carroll yang ada baiknya mendapatkan jam terbang yang lebih tinggi. Meskipun Carroll mungkin tidak akan langsung bersinar, namun mengingat potensi dan umurnya Carroll tetap merupakan asset yang terlalu berharga untuk dianggurkan begitu saja.
Selain Suarez & Carroll, pilihan untuk forward memang sangat terbatas, tercatat hanya Dirk Kuyt & Bellamy yang bisa juga diplot untuk menempati posisi ini, dan Kuyt/Bellamy pun bukan tipe yang cocok menjadi penyerang murni. Di samping kedua pemain ini sebetulnya masih ada pemain muda berpotensi Suso (Jesus Fernandez Saez) yang mungkin juga layak mendapat kesempatan bermain, namun levelnya mungkin masih di bawah pemain-pemain seniornya. Pilihan lain selain membeli adalah dengan memanggil penyerang mudanya Daniel Pacheco, Nathan Eccleston, atau David Amoo. Bila memungkinkan dan tidak ada penambahan pemain baru rasanya ada baiknya ini dilakukan, dengan kemungkinan larangan 8x bermain untuk Suarez, maka Liverpool perlu penyerang cadangan minimal satu lagi.
Rotasi Sektor Tengah
Di sektor tengah, Liverpool kali ini memiliki cukup banyak opsi, untuk gelandang tengah ada Gerrard, Adam, Spearing, Lucas, Henderson, Shelvey. Di sektor sayap ada Downing, Kuyt, Bellamy, Rodriguez, dan juga pemain muda Raheem Sterling yang cukup menjanjikan. Bila di sektor depan Liverpool dirasa kurang memiliki striker yang memiliki ketajaman dalam mencetak gol, maka masalah di lini tengah adalah bertumpuknya banyak pemain dengan posisi dan tipe permainan yang boleh dibilang setipe.
Di sayap terutama rata-rata pemain Liverpool adalah tipe pemain sayap yang suka menusuk ke tengah. Pemain sayap murni yang dimiliki Liverpool saat ini hanya Downing. Tipe permainan yang mirip ini membuat pilihan strategi menjadi terbatas dan permainan cenderung menumpuk di tengah depan.
Untuk posisi gelandang tengah juga nyaris semuanya bertipe sama yaitu gelandang serang, meskipun akhir-akhir ini karena cederanya Lucas & larangan 3x bermain untuk Spearing, Adam dipaksa untuk mengambil posisi ini dan tampaknya mulai menyesuaikan dengan cukup baik di posisi tersebut.
Sektor Belakang
Sektor belakang rasanya merupkan keunggulan Liverpool saat ini. Quartet bek Enrique - Agger - Skrtel - Johnson bisa jadi merupakan kombinasi 4 bek terbaik saat ini di Liga Inggris. Di samping mereka Liverpool juga masih memiliki Carragher yang tentu tidak diragukan lagi, juga Martin Kelly yang menampakkan permainan positif setiap kali tampil. Selain itu beberapa pemain mudanya juga cukup menjanjikan seperti Flanagan, Coady, dan Wisdom. Kelemahan lini belakang adalah tiadanya pelapis untuk Enrique di sektor kiri, satu-satunya pelapis hanyalah Aurelio yang meski cukup baik namun sering didera cedera.
Pilihan formasi
Berdasarkan situasi yang ada, berikut beberapa formasi terbaik yang mungkin bisa menjadi alternatif:
| 4-2-3-1 like |
Bentuk menyerupai 4-2-3-1 ini mungkin formasi ideal bila Gerrard sudah pulih 100%. Dengan Suarez mengambil posisi "false 9", saya pribadi tidak pernah melihat Suarez menjadi posisi striker (9) murni, dan Gerrard sedikit di belakangnya dalam posisi gelandang serang. Penempatan Gerrard dan Suarez ini mengambil keuntungan secara maksimal dari kemampuan Suarez untuk membongkar pertahanan lawan dan Gerrard yang bisa maju menusuk lubang yang ditinggalkan. Ditambah kemampuan penyelesain Gerrard yang baik mungkin kebuntuan lini depan Liverpool bisa dipecahkan.
Mengasumsikan Spearing dalam kondisi dan performa yang baik saya lebih menyukai Spearing dalam posisi jangkar dibanding Adam/Henderson dengan Adam sebagai jangkar. Namun bila Spearing tidak dalam kondisi sempurna, Adam/Henderson bisa menjadi pilihan seperti biasa. Formasi ini menitikberatkan umpan-umpan pendek dengan fluiditas tinggi di sektor tengah - depan.
| 4-5-1 like |
Formasi ini mungkin bisa menjadi alternatif saat Suarez menjalani larangan bertanding atau bila Suarez sedang tidak fit. Formasi ini mewajibkan Downing di kanan atau di kiri untuk mensuplai Carrol dengan crossing-crossing atas. Idenya jelas untuk memaksimalkan kemampuan Carrol dalam bola atas. Dalam formasi ini dengan sayap yang memiliki kecepatan yaitu Bellamy dan Downing, maka umpan lambung ke depan mengandalkan Carrol sebagai "pemantul" bisa dilakukan untuk alternatif serangan balik.
Spearing lagi-lagi menjadi jangkar dalam formasi ini, dan mungkin bisa digantikan oleh Adam atau Coady bila Spearing tidak dalam kondisi terbaik.
Menghadapi lawan seperti Stoke dan Newcastle yang menyukai bola atas mungkin penempatan Spearing dan formasi ini bukan yang paling ideal.
| 4-3-3 like |
Alt C: 433ish
Formasi ini adalah formasi angan-angan saja, namun bukan berarti tidak mungkin, dalam bentuk 4-3-3 yang sangat fluid. Akan lebih baik bila Lucas yang mengisi posisi jangkar. Posisi jangkar di sini akan mengambil posisi bertahan saat tim menyerang.
Formasi ini juga memaksimalkan bek sayap untuk mendukung serangan saat menguasai bola. Dalam menyerang formasi akan berubah mendekati bentuk 3-4-3.
Di depan lagi-lagi Suarez mengambil posisi "false 9" dengan Bellamy di kiri sebagai pendukung.
Posisi ini juga mengandalkan fluiditas para pemainnya. Jujur saya agak meragukan formasi ini berhasil dilakukan di Liga Inggris yang cenderung rigid.
| 4-1-2-1-2 like |
Formasi ini juga merupakan formasi angan-angan, dalam bentuk 4-1-2-1-2. Seperti formasi sebelumnya, formasi ini akan jauh lebih memaksimalkan bek sayap. Saat menyerang formasi ini akan berubah mendekati bentuk 3-5-2.
Susunan ini lebih menitikberatkan kepada serangan dan rawan pada serangan balik di kedua sayap yang ditinggal maju bek sayapnya. Untuk itu posisi jangkar menjadi sangat menentukan untuk membantu kedua bek yang ditinggalkan oleh sayapnya.
Formasi ini sepintas nampak "kurang lebar" dibanding 4-3-3, namun bila dijalankan dengan benar maka lebar lapangan akan di-cover oleh kedua bek sayap. Stamina bek sayap akan sangat terkuras tentunya, oleh karena itu bentuk serangan langsung (direct football) harus dihindari dan menekankan untuk mengatur tempo dalam bentuk umpan-umpan pendek.
Beberapa catatan:
1. Saya mengakui bahwa saya sangat menyukai possession football, yang meskipun akhir-akhir ini terlalu mendominasi akibat pengaruh Barca, namun saya harus mengakui bahwa possession football adalah inti permainan sepakbola dan adalah bentuk yang "paling aman".
2. Sebagai akibat dari poin 1, saya menyukai menumpuk pemain di tengah dengan segala bentuk turunan 4-3-3/4-5-1 atau 3-5-2.
3. Dalam sepakbola modern saya percaya bahwa peran bek dalam membantu serangan adalah sangat menentukan. Hal ini dikombinasikan dengan possession football akan sangat membantu dalam mengoverload pertahanan lawan.
4. Ide "false 9" yang pertama kali (arguably) diusung oleh Roma Spaletti dengan Totti-nya dan diteruskan oleh ManU beberapa saat yang lalu dan kini oleh Barca baru akhir-akhir ini merasuk ke pikiran saya. "False 9" ini ternyata memang sangat berguna untuk menggoyang pertahanan lawan. Bentuk flat 2 bek tengah akan sangat sulit menghadapi bentuk false 9 ini, di saat menyerang false 9 akan keluar dari wilayah di depan pertahanan sehingga membantu pilihan jalur serangan melewati sektor tengah. Namun mungkin bahasan ini bisa kita lakukan di lain kesempatan. Intinya saya mencoba mengandaikan penempatan false 9 dalam formasi Liverpool, yaitu dalam bentuk diri Suarez.
5. Meskipun saya termasuk yang getol mengadvokasi penggunaan Carrol, saya harus mengakui posisi Carrol ini sangat unik dalam persepsi sepakbola yang saya angankan, ditambah pilihan pemain yang ada menjadikan posisi Carrol ini sangat unik. Carrol saat ini adalah pemain no 9 murni, yang terus terang dalam angan-angan saya mulai berkurang perannya di sepakbola modern yang saya angankan. Mungkin seolah Liverpool yang saya angankan di atas dibentuk seputar Suarez, namun menurut hemat saya bukan. Justru Suarez adalah implikasi logis dari pilihan-pilihan formasi dan bentuk yang saya inginkan. Sampai level tertentu saya juga percaya ini yang ada dalam benak KK. Carrol mau tak mau harus menyesuaikan bentuk permainannya bila ingin berkembang bersama Liverpool, yang saya percaya potensinya ada tinggal menunggu untuk dikeluarkan, mungkin bahasan untuk Carrol juga kita simpan untuk kali lain.
Akhir kata, SELAMAT NATAL 2011 dan SELAMAT TAHUN BARU 2012. Selamat berlibur akhir tahun dan sampai jumpa di tahun baru nanti ;)
YNWA!
Thursday, December 22, 2011
Lack of Composure in the Final Third and Excellent Habsi Cost Liverpool 2 Points
Wigan 0 - Liverpool 0, adalah skor akhir dari DW stadium Kamis dinihari tadi ketika Liverpool bertandang ke markas Wigan. Grafik permainan Wigan yang sedikit membaik dalam beberapa pertandingan terakhir ini terus berlanjut dengan keberhasilan menahan imbang Liverpool yang masih berusaha memecahkan permasalahan penyelesaian akhirnya.
Roberto Martinez memainkan susunan pemain yang sama dengan pertandingan sebelumnya yang juga cukup sukses untuk menahan Chelsea 1-1. Di kubu Liverpool, Kenny Dalglish mencoba sedikit merotasi pemainnya dengan memainkan Kuyt & Rodriguez menggantikan Bellamy & Shelvey yang bermain cukup baik ketika melawan Aston Villa minggu kemarin.
King Kenny (KK) kali ini kembali membuat kejutan dengan pemilihan dan penempatan pemainnya. Terutama dengan penempatan Rodriguez di belakang Suarez. Rodriguez menurut hemat saya memang bisa menempati posisi ini, namun posisi terbaiknya adalah mulai dari sayap dan menusuk ke tengah. Hanya kali ini mungkin karena terbatas pilihan pemain maka KK mencoba sedikit memaksakan formasi ini. Bila memang yang diinginkan adalah 5 pemain tengah, saya lebih suka menarik mundur Suarez, dan menempatkan Rodriguez di kiri, Kuyt kanan, dan Carrol di depan. Memang pilihan ini berarti mengorbankan pemain sayap "murni" Liverpool yaitu Downing, namun berarti menambah jumlah meriam Liverpool yaitu: Maxi, Suarez, Kuyt dan Carroll. Memang ini hipotetis, namun pergerakan ketiga pemain (Maxi, Suarez, Kuyt) sepertinya lebih "fluid" dibanding dengan Downing.
Penempatan Downing sendiri kali ini sangat menarik, karena Downing terlihat cukup bebas bergerak ke kiri dan kanan dan seringkali bertukar dengan Kuyt. Memang Downing bisa bermain di kiri ataupun kanan, namun bila yang dikejar adalah "fluiditas" lini tengah saya lebih memilih Maxi/Suarez/Kuyt, terlebih menghadapi pertahanan kokoh Wigan kali ini. Dan bila memang Downing dipilih untuk mencoba menarik sektor pertahanan Wigan dari sayap, mungkin dibanding Rodriguez, Shelvey sedikit lebih baik. Hanya memang tidak diketahui apakah Shelvey sedikit kurang fit untuk starter?
Pertandingan kemudian berjalan cukup nyata mengikuti formasi awal dari kedua tim. 4 pemain depan Liverpool ditambah Henderson cukup kesulitan menghadapi 5 pemain bertahan Wigan. Untuk membongkar pertahanan Wigan berulang kali kedua bek sayap Enrique & Johnson juga maju untuk menambah jumlah pemain di depan. Seperti saat menghadapi Chelsea Wigan cukup disiplin dalam bertahan sehingga nyaris tidak ada peluang bersih yang benar-benar didapat Liverpool.
Pertandingan ini juga semakin memperlihatkan kelemahan Liverpool di sektor depan dimana kurangnya kemampuan Liverpool untuk "menghabisi" peluang yang ada. Tercatat peluang terbaik didapat oleh Dirk Kuyt pada menit ke-25, yang mendapat umpan matang dari Downing dari sektor kiri tepat di depan gawang namun tembakannya masih tepat mengarah kepada kiper Al-Habsi.
Dari 9 kali tembakan tepat ke gawang, Liverpool tidak mampu mencetak satu gol pun. Di satu sisi penampilan Al-Habsi memang sedang cukup sempurna, namun di sisi lain terlihat kurang tenangnya para pemain Liverpool dalam menuntaskan kesempatan yang ada.
Aliran bola dari kaki ke kaki pemain Liverpool sebetulnya terlihat cukup lancar, namun sayang ketika mendekati kotak penalti lawan, sering masih terburu-buru dalam penyelesaian. Beberapa kesempatan yang mungkin lebih baik bila dioper seringkali dipaksakan untuk dribbling atau tembakan langsung. Hal ini berbeda dengan penampilan lini belakang Liverpool yang terlihat cukup tenang dan cukup meyakinkan dalam bertahan.
Pilihan lini depan Liverpool memang masih membuat sakit kepala karena terbatasnya pilihan baik dari tipe pemain tengah/depan dan jumlah striker yang saat ini dimiliki Liverpool, dan ini masih menjadi PR yang harus diselesaikan bila Liverpool ingin finish di "top four". Apalagi bila nanti hukuman larangan bermain untuk Suarez diberlakukan, ini akan menjadi kendala yang sangat berarti. Di sisi lain ada harapan positif dengan sinyal membaiknya sang kapten S. Gerrard.
Roberto Martinez memainkan susunan pemain yang sama dengan pertandingan sebelumnya yang juga cukup sukses untuk menahan Chelsea 1-1. Di kubu Liverpool, Kenny Dalglish mencoba sedikit merotasi pemainnya dengan memainkan Kuyt & Rodriguez menggantikan Bellamy & Shelvey yang bermain cukup baik ketika melawan Aston Villa minggu kemarin.
King Kenny (KK) kali ini kembali membuat kejutan dengan pemilihan dan penempatan pemainnya. Terutama dengan penempatan Rodriguez di belakang Suarez. Rodriguez menurut hemat saya memang bisa menempati posisi ini, namun posisi terbaiknya adalah mulai dari sayap dan menusuk ke tengah. Hanya kali ini mungkin karena terbatas pilihan pemain maka KK mencoba sedikit memaksakan formasi ini. Bila memang yang diinginkan adalah 5 pemain tengah, saya lebih suka menarik mundur Suarez, dan menempatkan Rodriguez di kiri, Kuyt kanan, dan Carrol di depan. Memang pilihan ini berarti mengorbankan pemain sayap "murni" Liverpool yaitu Downing, namun berarti menambah jumlah meriam Liverpool yaitu: Maxi, Suarez, Kuyt dan Carroll. Memang ini hipotetis, namun pergerakan ketiga pemain (Maxi, Suarez, Kuyt) sepertinya lebih "fluid" dibanding dengan Downing.
Penempatan Downing sendiri kali ini sangat menarik, karena Downing terlihat cukup bebas bergerak ke kiri dan kanan dan seringkali bertukar dengan Kuyt. Memang Downing bisa bermain di kiri ataupun kanan, namun bila yang dikejar adalah "fluiditas" lini tengah saya lebih memilih Maxi/Suarez/Kuyt, terlebih menghadapi pertahanan kokoh Wigan kali ini. Dan bila memang Downing dipilih untuk mencoba menarik sektor pertahanan Wigan dari sayap, mungkin dibanding Rodriguez, Shelvey sedikit lebih baik. Hanya memang tidak diketahui apakah Shelvey sedikit kurang fit untuk starter?
Pertandingan kemudian berjalan cukup nyata mengikuti formasi awal dari kedua tim. 4 pemain depan Liverpool ditambah Henderson cukup kesulitan menghadapi 5 pemain bertahan Wigan. Untuk membongkar pertahanan Wigan berulang kali kedua bek sayap Enrique & Johnson juga maju untuk menambah jumlah pemain di depan. Seperti saat menghadapi Chelsea Wigan cukup disiplin dalam bertahan sehingga nyaris tidak ada peluang bersih yang benar-benar didapat Liverpool.
Pertandingan ini juga semakin memperlihatkan kelemahan Liverpool di sektor depan dimana kurangnya kemampuan Liverpool untuk "menghabisi" peluang yang ada. Tercatat peluang terbaik didapat oleh Dirk Kuyt pada menit ke-25, yang mendapat umpan matang dari Downing dari sektor kiri tepat di depan gawang namun tembakannya masih tepat mengarah kepada kiper Al-Habsi.
Dari 9 kali tembakan tepat ke gawang, Liverpool tidak mampu mencetak satu gol pun. Di satu sisi penampilan Al-Habsi memang sedang cukup sempurna, namun di sisi lain terlihat kurang tenangnya para pemain Liverpool dalam menuntaskan kesempatan yang ada.
Aliran bola dari kaki ke kaki pemain Liverpool sebetulnya terlihat cukup lancar, namun sayang ketika mendekati kotak penalti lawan, sering masih terburu-buru dalam penyelesaian. Beberapa kesempatan yang mungkin lebih baik bila dioper seringkali dipaksakan untuk dribbling atau tembakan langsung. Hal ini berbeda dengan penampilan lini belakang Liverpool yang terlihat cukup tenang dan cukup meyakinkan dalam bertahan.
Pilihan lini depan Liverpool memang masih membuat sakit kepala karena terbatasnya pilihan baik dari tipe pemain tengah/depan dan jumlah striker yang saat ini dimiliki Liverpool, dan ini masih menjadi PR yang harus diselesaikan bila Liverpool ingin finish di "top four". Apalagi bila nanti hukuman larangan bermain untuk Suarez diberlakukan, ini akan menjadi kendala yang sangat berarti. Di sisi lain ada harapan positif dengan sinyal membaiknya sang kapten S. Gerrard.
Wednesday, December 21, 2011
Preview Wigan vs Liverpool (21 Dec 2011)
Liverpool malam ini akan menghadapi Wigan, yang saat ini berada di peringkat 18 Liga Inggris dengan poin 13. Namun meskipun berada di peringkat bongsor, Wigan tidak bisa dipandang sebelah mata mengingat grafik permainannya yang relatif sedang meningkat, yaitu dengan 2x menang, 2x imbang, termasuk mampu menahan imbang Chelsea, meskipun kalah besar 0-4 melawan Arsenal.
Perkiraan Susunan Pemain
Dari kubu Wigan, melihat hasil yang cukup baik dengan formasi 5-3-2 saat melawan Chelsea kemarin bukan tidak mungkin Roberto Martinez memilih menggunakan formasi yang sama untuk melawan Liverpool kali ini. Demikian juga dari kubu Liverpool melihat dominasi permainan yang cukup meyakinkan saat melawan Aston Villa, nampaknya akan membuat Kenny Dalglish untuk berpikir menggunakan susunan pemain yang sama melawan Villa kemarin, yaitu dengan pola 4-4-1-1 / 4-2-3-1.
Tergantung level fitness pemainnya, sayap kiri/kanan Liverpool mungkin akan diisi Downing/Kuyt/Bellamy/Rodriguez. Kemungkinan besar Downing minimal akan bermain entah sebagai pengganti atau starter sebagai pemain yang bisa memanfaat lebar lapangan di sayap.
Liverpool kemungkinan akan langsung mengambil inisiatif, dan mungkin akan langsung mencoba menekan dengan mendorong kedua sayap dalam formasi 4-2-3-1, dan bila Wigan menggunakan formasi seperti Chelsea kemarin maka pilihan formasi 4-2-3-1 akan menjadi lebih menguntungkan untuk Liverpool. Saat menyerang Bellamy dari sektor kiri bisa memotong ke tengah untuk membantu serangan dibantu oleh Henderson yang juga didorong maju. Di belakangnya Charlie Adam yang akan berperan untuk menjaga keseimbangan sektor tengah sekaligus mengambil peran sebagai regista untuk membagi bola dari tengah belakang.
Bila Wigan berhasil menekan Liverpool di tengah, maka mungkin Liverpool akan mencoba untuk membangun serangan balik cepat melalui salah satu sayapnya, dengan menarik lebih ke belakang kedua gelandang tengah Adam/Henderson. Meskipun ini bukan situasi ideal bagi Liverpool mengingat Adam/Henderson lebih baik bermain dalam posisi menyerang daripada bertahan. Oleh karena itu Liverpool wajib hukumnya untuk mengambil inisiatif dari menit pertama.
Perkiraan Skor
Mengingat formasi kedua tim, maka lini tengah akan menjadi penentu. Pertandingan kemungkinan akan berakhir dengan kemenangan Liverpool dengan skor 0-1 atau 0-2.
Perkiraan Susunan Pemain
Dari kubu Wigan, melihat hasil yang cukup baik dengan formasi 5-3-2 saat melawan Chelsea kemarin bukan tidak mungkin Roberto Martinez memilih menggunakan formasi yang sama untuk melawan Liverpool kali ini. Demikian juga dari kubu Liverpool melihat dominasi permainan yang cukup meyakinkan saat melawan Aston Villa, nampaknya akan membuat Kenny Dalglish untuk berpikir menggunakan susunan pemain yang sama melawan Villa kemarin, yaitu dengan pola 4-4-1-1 / 4-2-3-1.
Tergantung level fitness pemainnya, sayap kiri/kanan Liverpool mungkin akan diisi Downing/Kuyt/Bellamy/Rodriguez. Kemungkinan besar Downing minimal akan bermain entah sebagai pengganti atau starter sebagai pemain yang bisa memanfaat lebar lapangan di sayap.
Liverpool kemungkinan akan langsung mengambil inisiatif, dan mungkin akan langsung mencoba menekan dengan mendorong kedua sayap dalam formasi 4-2-3-1, dan bila Wigan menggunakan formasi seperti Chelsea kemarin maka pilihan formasi 4-2-3-1 akan menjadi lebih menguntungkan untuk Liverpool. Saat menyerang Bellamy dari sektor kiri bisa memotong ke tengah untuk membantu serangan dibantu oleh Henderson yang juga didorong maju. Di belakangnya Charlie Adam yang akan berperan untuk menjaga keseimbangan sektor tengah sekaligus mengambil peran sebagai regista untuk membagi bola dari tengah belakang.
Bila Wigan berhasil menekan Liverpool di tengah, maka mungkin Liverpool akan mencoba untuk membangun serangan balik cepat melalui salah satu sayapnya, dengan menarik lebih ke belakang kedua gelandang tengah Adam/Henderson. Meskipun ini bukan situasi ideal bagi Liverpool mengingat Adam/Henderson lebih baik bermain dalam posisi menyerang daripada bertahan. Oleh karena itu Liverpool wajib hukumnya untuk mengambil inisiatif dari menit pertama.
Perkiraan Skor
Mengingat formasi kedua tim, maka lini tengah akan menjadi penentu. Pertandingan kemungkinan akan berakhir dengan kemenangan Liverpool dengan skor 0-1 atau 0-2.
Monday, December 19, 2011
Energetic Liverpool Steamrolled Uninspiring Villa
Liverpool mengungguli Villa 2-0 dalam pertandingan yang lebih cenderung berat sebelah. Tanpa mengurangi respek kepada Liverpool, kemenangan Liverpool kali mungkin lebih dikarenakan permainan Aston Villa tampil monoton dan nyaris tanpa dinamika dan kurangnya ide dari lini tengah mereka.
Pilihan pemain dan formasi
Kenny Dalglish membuat kejutan dengan memberikan kesempatan untuk Jonjo Shelvey tampil semenjak menit pertama bersama Bellamy yang juga mendapatkan kepercayaan dari KD. Liverpool mengawali permainan dengan formasi tradisional 4-4-1-1 dengan Shelvey di belakang Suarez.
Bellamy mengisi posisi sayap kiri dan saat membawa bola sering maju dan memotong ke tengah, sekaligus memberikan ruang gerak bagi Enrique untuk maju dari belakang di sektor kiri Liverpool. Terbukti permainan Bellamy cukup memberikan dinamika di sektor ini yang sangat dibutuhkan oleh Liverpool. Downing diplot untuk memanfaatkan lebar lapangan di sayap kanan dengan didukung Glen Johnson dari belakangnya.
Adam dan Henderson mengisi posisi "pivot" di lini tengah Liverpool dengan Henderson sedikit lebih di depan Adam terutama saat Liverpool menguasai bola.
Lini belakang Liverpool tetap ditempati oleh empat (4) bek pilihan pertama Liverpool, Enrique - Agger - Skrtel - Johnson. Pilihan yang rasional mengingat Liverpool hingga saat ini merupakan tim yang paling sedikit kebobolan di Liga Premier.
McLeish tampil dengan bentuk mendekati formasi standar Villa, 4-2-3-1. Dengan cederanya Bent dan akumulasi kartu yang diterima oleh Agbonlahor, Heskey dipercaya untuk mengisi posisi striker tunggal yang biasa diisi oleh Bent. N'zogbia diplot mengisi sayap kiri, Albrighton di kanan, dan Delfouneso sedikit di belakang Heskey.
Babak Pertama
Kelemahan Aston Villa dalam bertahan dari sepak pojok segera diekspos oleh Liverpool, dalam 15 menit pertama Liverpool berhasil mencuri dua gol hasil dari sepak pojok. Dari kedua sepak pojok yang terjadi pertahan Aston Villa tampak tidak punya ide bagaimana untuk bertahan saat sepak pojok, dan ini sukses dimanfaatkan oleh Liverpool, pertama oleh Bellamy dan kedua oleh Skrtel.
Lemahnya Aston Villa dalam sepak pojok berlanjut dalam hal serangan. Sepanjang awal babak pertama Aston Villa nyaris bermain monoton nyaris tanpa kreativitas. Baru menjelang babak pertama selesai, Aston Villa mampu membuat Liverpool sedikit bertahan dan sedikit berantakan dengan tekanan yang diberikan oleh Aston Villa. Namun Liverpool mampu bertahan dengan baik bahkan mampu memberikan serangan balasan yang cukup cepat. Liverpool yang terbawa dalam arus permainan cepat nampak sedikti mengkhawatirkan, namun tidak ada peluang berarti muncul dari Aston Villa.
Babak Kedua
Tidak ada perubahan mendasar dari kedua belah pihak, justru Kenny Dalglish mengambil inisiatif dengan mendorong kedua sayapnya, Bellamy dan Downing, sedikit ke depan yang membuat formasi Liverpool nampak mendekati bentuk 4-2-3-1. Nampaknya langkah ini diambil mengantisipasi kemungkinan Aston Villa mencoba mendorong pemain lebih ke depan. Entah karena Liverpool sukses mengambil kendali permainan di awal babak kedua atau memang tidak adanya instruksi berarti dari McLeish, tidak kelihatan ada perubahan berarti dari Aston Villa.
Liverpool justru berhasil menekan Aston Villa dan mengambil inisiatif serangan. Usaha Liverpool nyaris membuahkan hasil beberapa kali dari build-up play yang cantik, terutama dari sektor kiri Liverpool oleh Bellamy. Dalglish dan Liverpool boleh mendapat acungan jempol dengan inisiatif yang diambilnya. Dua kali usaha Liverpool kembali membentur tiang sehingga menambah rekor kena tiang, yang berarti menjadi 17 kali sepanjang musim ini.
Langkah McLeish kemudian jujur sedikit membingungkan, di tengah situasi lapangan tengahnya yang didominasi oleh Liverpool, McLeish memilih mengganti Heskey dengan Weimann yang juga merupakan pemain depan, dan mendorong Delfouneso lebih ke depan dalam formasi semakin mendekati bentuk 4-4-2. Ini membuat Liverpool justru menjadi lebih leluasa di tengah dengan surplus satu pemain tengah. Heskey memang sedikit banyak tidak memberikan kontribusi berarti, namun ini terjadi justru lebih kepada kurangnya penetrasi dari sektor tengah Aston Villa. Bila memang McLeish menginginkan permainan langsung dengan pola 4-4-2 maka bukankah lebih baik Heskey tetap bermain untuk menjadi target man dengan umpan lambung dari kedua sisi?
Hingga akhir babak kedua tidak ada perubahan berarti dari Villa, dan kembali Dalglish mengambil inisiatif mengganti Shelvey dengan Carragher dalam usahanya untuk mempertahankan keunggulan. Langkah ini sebetulnya tidak terlalu krusial mengingat Villa tidak pernah berhasil membongkar dominasi lini tengah Liverpool. Namun mungkin KD berpikir lebih baik berjaga-jaga daripada kebobolan, di samping mungkin memberikan jam terbang untuk Carragher. KD kembali berinisiatif dengan mengganti man of the match kali ini, Bellamy, dengan Dirk Kuyt, membuat formasi akhir Liverpool mendekati bentuk 5-3-2 dengan Kuyt beroperasi dari sayap kiri.
Kesimpulan
Tidak jelasnya pola permainan Aston Villa, kelemahan sepak pojok, dan kurangnya inisiatif di lini tengah membuat Villa pantas kalah kali ini.
Liverpool tampil konsisten, tidak terlalu istimewa, tapi memiliki cukup dinamika dan inisiatif sehingga mampu mendominasi permainan. Bahkan Liverpool kurang beruntung tidak berhasil menambah golnya.
Catatan positif untuk lini tengah Liverpool terutama Bellamy, dan juga Downing. Adam dan Henderson tampil cukup baik. Adam nampak semakin meyakinkan di posisi gelandang tengah yang ditinggalkan oleh cederanya Lucas dan Gerrard. Catatan positif dari Shelvey yang meskipun tidak terlalu menonjol namun sedikit banyak memperlihatkan kontribusi positif.
Pilihan pemain dan formasi
Kenny Dalglish membuat kejutan dengan memberikan kesempatan untuk Jonjo Shelvey tampil semenjak menit pertama bersama Bellamy yang juga mendapatkan kepercayaan dari KD. Liverpool mengawali permainan dengan formasi tradisional 4-4-1-1 dengan Shelvey di belakang Suarez.
Bellamy mengisi posisi sayap kiri dan saat membawa bola sering maju dan memotong ke tengah, sekaligus memberikan ruang gerak bagi Enrique untuk maju dari belakang di sektor kiri Liverpool. Terbukti permainan Bellamy cukup memberikan dinamika di sektor ini yang sangat dibutuhkan oleh Liverpool. Downing diplot untuk memanfaatkan lebar lapangan di sayap kanan dengan didukung Glen Johnson dari belakangnya.
Adam dan Henderson mengisi posisi "pivot" di lini tengah Liverpool dengan Henderson sedikit lebih di depan Adam terutama saat Liverpool menguasai bola.
Lini belakang Liverpool tetap ditempati oleh empat (4) bek pilihan pertama Liverpool, Enrique - Agger - Skrtel - Johnson. Pilihan yang rasional mengingat Liverpool hingga saat ini merupakan tim yang paling sedikit kebobolan di Liga Premier.
McLeish tampil dengan bentuk mendekati formasi standar Villa, 4-2-3-1. Dengan cederanya Bent dan akumulasi kartu yang diterima oleh Agbonlahor, Heskey dipercaya untuk mengisi posisi striker tunggal yang biasa diisi oleh Bent. N'zogbia diplot mengisi sayap kiri, Albrighton di kanan, dan Delfouneso sedikit di belakang Heskey.
Babak Pertama
Kelemahan Aston Villa dalam bertahan dari sepak pojok segera diekspos oleh Liverpool, dalam 15 menit pertama Liverpool berhasil mencuri dua gol hasil dari sepak pojok. Dari kedua sepak pojok yang terjadi pertahan Aston Villa tampak tidak punya ide bagaimana untuk bertahan saat sepak pojok, dan ini sukses dimanfaatkan oleh Liverpool, pertama oleh Bellamy dan kedua oleh Skrtel.
Lemahnya Aston Villa dalam sepak pojok berlanjut dalam hal serangan. Sepanjang awal babak pertama Aston Villa nyaris bermain monoton nyaris tanpa kreativitas. Baru menjelang babak pertama selesai, Aston Villa mampu membuat Liverpool sedikit bertahan dan sedikit berantakan dengan tekanan yang diberikan oleh Aston Villa. Namun Liverpool mampu bertahan dengan baik bahkan mampu memberikan serangan balasan yang cukup cepat. Liverpool yang terbawa dalam arus permainan cepat nampak sedikti mengkhawatirkan, namun tidak ada peluang berarti muncul dari Aston Villa.
Babak Kedua
Tidak ada perubahan mendasar dari kedua belah pihak, justru Kenny Dalglish mengambil inisiatif dengan mendorong kedua sayapnya, Bellamy dan Downing, sedikit ke depan yang membuat formasi Liverpool nampak mendekati bentuk 4-2-3-1. Nampaknya langkah ini diambil mengantisipasi kemungkinan Aston Villa mencoba mendorong pemain lebih ke depan. Entah karena Liverpool sukses mengambil kendali permainan di awal babak kedua atau memang tidak adanya instruksi berarti dari McLeish, tidak kelihatan ada perubahan berarti dari Aston Villa.
Liverpool justru berhasil menekan Aston Villa dan mengambil inisiatif serangan. Usaha Liverpool nyaris membuahkan hasil beberapa kali dari build-up play yang cantik, terutama dari sektor kiri Liverpool oleh Bellamy. Dalglish dan Liverpool boleh mendapat acungan jempol dengan inisiatif yang diambilnya. Dua kali usaha Liverpool kembali membentur tiang sehingga menambah rekor kena tiang, yang berarti menjadi 17 kali sepanjang musim ini.
Langkah McLeish kemudian jujur sedikit membingungkan, di tengah situasi lapangan tengahnya yang didominasi oleh Liverpool, McLeish memilih mengganti Heskey dengan Weimann yang juga merupakan pemain depan, dan mendorong Delfouneso lebih ke depan dalam formasi semakin mendekati bentuk 4-4-2. Ini membuat Liverpool justru menjadi lebih leluasa di tengah dengan surplus satu pemain tengah. Heskey memang sedikit banyak tidak memberikan kontribusi berarti, namun ini terjadi justru lebih kepada kurangnya penetrasi dari sektor tengah Aston Villa. Bila memang McLeish menginginkan permainan langsung dengan pola 4-4-2 maka bukankah lebih baik Heskey tetap bermain untuk menjadi target man dengan umpan lambung dari kedua sisi?
Hingga akhir babak kedua tidak ada perubahan berarti dari Villa, dan kembali Dalglish mengambil inisiatif mengganti Shelvey dengan Carragher dalam usahanya untuk mempertahankan keunggulan. Langkah ini sebetulnya tidak terlalu krusial mengingat Villa tidak pernah berhasil membongkar dominasi lini tengah Liverpool. Namun mungkin KD berpikir lebih baik berjaga-jaga daripada kebobolan, di samping mungkin memberikan jam terbang untuk Carragher. KD kembali berinisiatif dengan mengganti man of the match kali ini, Bellamy, dengan Dirk Kuyt, membuat formasi akhir Liverpool mendekati bentuk 5-3-2 dengan Kuyt beroperasi dari sayap kiri.
Kesimpulan
Tidak jelasnya pola permainan Aston Villa, kelemahan sepak pojok, dan kurangnya inisiatif di lini tengah membuat Villa pantas kalah kali ini.
Liverpool tampil konsisten, tidak terlalu istimewa, tapi memiliki cukup dinamika dan inisiatif sehingga mampu mendominasi permainan. Bahkan Liverpool kurang beruntung tidak berhasil menambah golnya.
Catatan positif untuk lini tengah Liverpool terutama Bellamy, dan juga Downing. Adam dan Henderson tampil cukup baik. Adam nampak semakin meyakinkan di posisi gelandang tengah yang ditinggalkan oleh cederanya Lucas dan Gerrard. Catatan positif dari Shelvey yang meskipun tidak terlalu menonjol namun sedikit banyak memperlihatkan kontribusi positif.
Tuesday, December 13, 2011
Preview Aston Villa vs Liverpool @Villa Park (18 Des 2011)
Hari minggu ini, Liverpool akan bermain tandang menghadapi Aston Villa. Liverpool saat ini menduduki peringkat 6 klasemen sementara dengan 26 poin dari 15 pertandingan, dan Aston Villa di peringkat 9 dengan 19 point, juga dari 15 pertandingan. Kedua tim sama-sama mencatatkan 18 gol, namun Liverpool memiliki catatan pertahanan yang lebih baik, yaitu baru kebobolan 13 gol, dibandingkan Aston Villa yang telah kebobolan 19 gol dari 15 pertandingan. Liverpool sejauh ini merupakan tim yang paling sedikit kebobolan di Liga Inggris. Namun dengan cederanya Lucas Leiva patut kita nantikan apakah Liverpool sanggup untuk mempertahankan rekor ini. Berikut akan coba kita lihat satu per satu hal-hal yang mungkin menjadi kunci dalam pertandingan nanti.
Faktor hilangnya Lucas Leiva
Lucas Leiva saat ini sudah menjadi pemain penting di Liverpool, cederanya Lucas Leiva menjadi kehilangan yang besar bagi Liverpool. Peran Lucas dalam menjadi tameng di depan pertahanan dan juga dalam menjaga stabilitas lini tengah sulit tergantikan. Peranan Lucas dalam pertandingan melawan Fulham coba digantikan oleh Jay Spearing, yang ternyata sanggup mengemban tugas tersebut. Sayang dalam pertandingan tersebut Spearing mendapatkan kartu merah yang mengakibatkan Liverpool akan kehilangan Spearing dalam tiga pertandingan, yaitu saat melawan QPR kemarin, Aston Villa minggu ini dan minggu berikutnya saat melawan Wigan.
Tanpa Lucas dan Jay, Liverpool boleh dibilang tidak memiliki lagi pemain yang pas untuk posisi ini. King Kenny kemudian memilih Adam turun sedikit ke belakang untuk sedikit banyak mengambil peran Lucas / Spearing. Dan ternyata Adam cukup mampu untuk tugas ini. Apakah Adam mampu menjalankan tugas yang sama nanti saat menghadapi Villa? Tentunya masih perlu dinantikan, mengingat Villa boleh dibilang masih satu kelas di atas QPR. Hanya sepertinya Liverpool memang tidak memiliki pilihan lain kali ini. Adam tentu menjadi pilihan pertama, dengan didampingi oleh Henderson di tengah, dalam formasi semacam 4-4-2 dengan Kuyt dan Downing di sayap kiri kanan.
Tiadanya Lucas Leiva tentu juga akan dimanfaatkan oleh McLeish, dengan tiadanya ball winner dari Liverpool, kemungkinan besar akan lebih baik bila Villa mencoba memainkan lini tengah dengan pola 4-2-3-1, pola yang cukup sering dimainkan Villa musim ini. Tujuannya tentu untuk tidak memberikan ruang untuk pergerakan pemain tengah Liverpool yang cukup berbahaya.
Bola atas atau bola bawah?
Kedua tim boleh dibilang memiliki keunggulan dalam penguasaan bola atas, dengan didukung oleh bek dan striker yang terbilang cukup kuat dalam duel bola atas. Pertama kita lihat dari sisi Villa, meskipun Villa cukup baik dalam duel di udara, namun menghadapi duo Agger-Skrtel, mungkin McLeish perlu berpikir ulang. Pilihan formasi 4-2-3-1 juga akan lebih menguntungkan tentunya bila Villa memilih memainkan penguasaan bola. Terlebih dengan tiadanya ball winner dari Liverpool, saya rasa ini merupakan pilihan terbaik untuk Villa.
Bagaimana dengan King Kenny? Liverpool di bawah King Kenny coba untuk kembali ke permainan pass and move yang dulu menjadi salah satu ciri khas Liverpool. Kali inipun rasanya lebih masuk akal bila Liverpool mencoba untuk memainkan bola dari kaki ke kaki. Terlebih dengan dukungan pemain tengah yang sangat fluid, tentunya pilihan ini akan sangat menarik.
Pertempuran Lini Tengah
Lini tengah kali ini akan menjadi kunci permainan. Villa bermain di kandang tentu akan cukup percaya diri untuk mencoba menguasai lini tengah, terlebih bila mereka memainkan pola 4-2-3-1 seperti dalam formasi ilustrasi gambar. Pola 4-2-3-1 terutama oleh Aston Villa, biasanya cukup statis, sehingga King Kenny dengan Liverpoolnya-lah yang harus mengambil inisiatif.
Dengan pilihan pola dasar 4-4-2 / 4-4-1-1 yang fluid, di mana Johnson diharapkan akan menjadi tokoh sentral untuk menjadi pemain ganjil untuk coba meng-overload atau minimal mengimbangi lini tengah Villa saat Liverpool menguasai bola. Adam dalam plot ini, akan mencoba mengisi posisi regista untuk membagi bola ke daerah pertahanan Aston Villa. Saat menguasai bola formasi Liverpool akan menjadi seperti 3-5-2 atau 3-4-1-2 dengan banyak pergerakan di tengah.
Pergerakan lincah Suarez juga akan sangat penting. Bersama Kuyt, maka saat kehilangan bola Suarez harus mampu menutup lobang di sektor kanan Liverpool, hingga formasi menjadi lebih mirip 4-1-4-1 saat kehilangan bola.
Dengan pergerakan seperti ini, stamina Johnson, Kuyt, dan Suarez tentunya akan sangat terkuras, dan di bangku cadangan harus disiapkan Kelly, Bellamy dan Rodriguez untuk pengganti ketiganya saat diperlukan.
Kebiasaan Aston Villa untuk bertahan ke belakang juga akan menguntungkan Liverpool bila Liverpool mampu mengambil inisiatif serangan.
Sayap
Downing di sayap kiri akan berperan untuk bermain di lebar lapangan bila lapangan tengah terlalu sesak oleh pemain. Dengan umpan ke tengah ke Andy Carroll, bila ini dilakukan maka akan memaksa Villa untuk semakin mundur ke belakang, yang tentunya akan menguntungkan Adam untuk mengatur serangan dari posisi regista.
Dari sisi Aston Villa, Agbonlahor harus berusaha mengambil celah yang ditinggalkan oleh Johnson, meskipun ini juga berarti beresiko membiarkan Adam mengatur serangan. Namun bila berhasil maka kurang lebih akan memberikan efek yang sama seperti Downing-Carroll, dimana akan memaksa lini pertahanan Liverpool terutama, Johnson untuk mundur ke belakang.
Kesimpulan
Aston Villa akan mencoba untuk tetap kompak di belakang dengan mengandalkan serangan cepat melalui Agbonlahor, atau melalui build up play pelan ke depan.
Liverpool harus mengambil inisiatif serangan dengan memanfaatkan fluiditas pemainnya, terutama di lini tengah untuk memberikan ruang gerak kepada Adam.
Bagaimanapun ini akan menjadi petandingan yang rapat, perkiraan skor akhir: 0-1 untuk Liverpool.
Faktor hilangnya Lucas Leiva
Lucas Leiva saat ini sudah menjadi pemain penting di Liverpool, cederanya Lucas Leiva menjadi kehilangan yang besar bagi Liverpool. Peran Lucas dalam menjadi tameng di depan pertahanan dan juga dalam menjaga stabilitas lini tengah sulit tergantikan. Peranan Lucas dalam pertandingan melawan Fulham coba digantikan oleh Jay Spearing, yang ternyata sanggup mengemban tugas tersebut. Sayang dalam pertandingan tersebut Spearing mendapatkan kartu merah yang mengakibatkan Liverpool akan kehilangan Spearing dalam tiga pertandingan, yaitu saat melawan QPR kemarin, Aston Villa minggu ini dan minggu berikutnya saat melawan Wigan.
Tanpa Lucas dan Jay, Liverpool boleh dibilang tidak memiliki lagi pemain yang pas untuk posisi ini. King Kenny kemudian memilih Adam turun sedikit ke belakang untuk sedikit banyak mengambil peran Lucas / Spearing. Dan ternyata Adam cukup mampu untuk tugas ini. Apakah Adam mampu menjalankan tugas yang sama nanti saat menghadapi Villa? Tentunya masih perlu dinantikan, mengingat Villa boleh dibilang masih satu kelas di atas QPR. Hanya sepertinya Liverpool memang tidak memiliki pilihan lain kali ini. Adam tentu menjadi pilihan pertama, dengan didampingi oleh Henderson di tengah, dalam formasi semacam 4-4-2 dengan Kuyt dan Downing di sayap kiri kanan.
Tiadanya Lucas Leiva tentu juga akan dimanfaatkan oleh McLeish, dengan tiadanya ball winner dari Liverpool, kemungkinan besar akan lebih baik bila Villa mencoba memainkan lini tengah dengan pola 4-2-3-1, pola yang cukup sering dimainkan Villa musim ini. Tujuannya tentu untuk tidak memberikan ruang untuk pergerakan pemain tengah Liverpool yang cukup berbahaya.
Bola atas atau bola bawah?
Kedua tim boleh dibilang memiliki keunggulan dalam penguasaan bola atas, dengan didukung oleh bek dan striker yang terbilang cukup kuat dalam duel bola atas. Pertama kita lihat dari sisi Villa, meskipun Villa cukup baik dalam duel di udara, namun menghadapi duo Agger-Skrtel, mungkin McLeish perlu berpikir ulang. Pilihan formasi 4-2-3-1 juga akan lebih menguntungkan tentunya bila Villa memilih memainkan penguasaan bola. Terlebih dengan tiadanya ball winner dari Liverpool, saya rasa ini merupakan pilihan terbaik untuk Villa.
Bagaimana dengan King Kenny? Liverpool di bawah King Kenny coba untuk kembali ke permainan pass and move yang dulu menjadi salah satu ciri khas Liverpool. Kali inipun rasanya lebih masuk akal bila Liverpool mencoba untuk memainkan bola dari kaki ke kaki. Terlebih dengan dukungan pemain tengah yang sangat fluid, tentunya pilihan ini akan sangat menarik.
Pertempuran Lini Tengah
Lini tengah kali ini akan menjadi kunci permainan. Villa bermain di kandang tentu akan cukup percaya diri untuk mencoba menguasai lini tengah, terlebih bila mereka memainkan pola 4-2-3-1 seperti dalam formasi ilustrasi gambar. Pola 4-2-3-1 terutama oleh Aston Villa, biasanya cukup statis, sehingga King Kenny dengan Liverpoolnya-lah yang harus mengambil inisiatif.
Dengan pilihan pola dasar 4-4-2 / 4-4-1-1 yang fluid, di mana Johnson diharapkan akan menjadi tokoh sentral untuk menjadi pemain ganjil untuk coba meng-overload atau minimal mengimbangi lini tengah Villa saat Liverpool menguasai bola. Adam dalam plot ini, akan mencoba mengisi posisi regista untuk membagi bola ke daerah pertahanan Aston Villa. Saat menguasai bola formasi Liverpool akan menjadi seperti 3-5-2 atau 3-4-1-2 dengan banyak pergerakan di tengah.
Pergerakan lincah Suarez juga akan sangat penting. Bersama Kuyt, maka saat kehilangan bola Suarez harus mampu menutup lobang di sektor kanan Liverpool, hingga formasi menjadi lebih mirip 4-1-4-1 saat kehilangan bola.
Dengan pergerakan seperti ini, stamina Johnson, Kuyt, dan Suarez tentunya akan sangat terkuras, dan di bangku cadangan harus disiapkan Kelly, Bellamy dan Rodriguez untuk pengganti ketiganya saat diperlukan.
Kebiasaan Aston Villa untuk bertahan ke belakang juga akan menguntungkan Liverpool bila Liverpool mampu mengambil inisiatif serangan.
Sayap
Downing di sayap kiri akan berperan untuk bermain di lebar lapangan bila lapangan tengah terlalu sesak oleh pemain. Dengan umpan ke tengah ke Andy Carroll, bila ini dilakukan maka akan memaksa Villa untuk semakin mundur ke belakang, yang tentunya akan menguntungkan Adam untuk mengatur serangan dari posisi regista.
Dari sisi Aston Villa, Agbonlahor harus berusaha mengambil celah yang ditinggalkan oleh Johnson, meskipun ini juga berarti beresiko membiarkan Adam mengatur serangan. Namun bila berhasil maka kurang lebih akan memberikan efek yang sama seperti Downing-Carroll, dimana akan memaksa lini pertahanan Liverpool terutama, Johnson untuk mundur ke belakang.
Kesimpulan
Aston Villa akan mencoba untuk tetap kompak di belakang dengan mengandalkan serangan cepat melalui Agbonlahor, atau melalui build up play pelan ke depan.
Liverpool harus mengambil inisiatif serangan dengan memanfaatkan fluiditas pemainnya, terutama di lini tengah untuk memberikan ruang gerak kepada Adam.
Bagaimanapun ini akan menjadi petandingan yang rapat, perkiraan skor akhir: 0-1 untuk Liverpool.
Monday, December 12, 2011
Santiago Bernabeu, Nov 10th 2011, Pertempuran 30 Menit
Selamat untuk Barca dan Pep, saat ini memang Barca masih merupakan a
team to beat. Dan setelah sekian tahun teka-teki bernama Barca itu masih
belum bisa dipecahkan.
Kesimpulanku kalau mau mengalahkan Barca, memang harus jadi banci dan siap-siap diolok-olok para pecinta "attacking football" di dunia ini. Hanya saja kadang mereka lupa, cara bermain bola itu tidak hanya satu. Dan melayani permainan possession football barca dengan permainan menyerang sama saja bunuh diri. Untuk urusan posession football saat ini memang Barca yang terbaik.
Dan terus terang saja, saat ini Real Madrid tidak punya kapasitas untuk melayani Barca. Hanya tim-tim dengan disiplin dan stamina yang baik yang bisa mengalahkan Barca saat ini, itu kenapa Liverpool dan Inter bisa menang lawan Barca. Keunggulan Madrid yaitu di serangan, sayangnya Barca masih setingkat lebih baik.
Sedikit mengulas permainan kemarin:
Teka-teki bagaimana Mou akan memainkan permainannya terjawab sudah, dengan pressuring high up the field. Ini memang logis, dan ini salah satu pilihan untuk bisa menekan Barca dan merusak ritme mereka. Hanya yang tidak aku mengerti adalah pilihan memainkan Ozil di tengah dalam pola 4-2-3-1. Pola 4-2-3-1 memang salah satu pola ideal untuk overloading lini tengah, ini mungkin maksud Mou. Di sisi lain hampir separuh musim ini Madrid sudah terbiasa dengan pola ini. Jujur saja Madrid & Mou musim ini agak terlalu monoton. Dengan pertimbangan "kebiasaan" ini mungkin kenapa Ozil dipertahankan dalam Starting 11. Tapi pilihan top 4 ini menjadi potongan yang salah dengan ide "menekan tinggi ke depan" tadi. Mungkin lebih baik bila Ozil ditarik dan diganti dengan Khedira, dan pola 4-2-3-1 diubah menjadi 4-3-3 seperti saat Madrid menghadapi Valencia, dengan Alonso di posisi regista di belakang dua tameng Lass dan Khedira. Top 3 Madrid tentu tetap: Ronaldo, Benzema, dan Di Maria. Pilihan Benzema di atas Higuain bisa dimengerti mengingat work rate Benzema dan kemampuan untuk pressure nya lebih baik di atas Higuain. Lain cerita bila Madrid memilih parkir bis, maka Higuain lebih cocok. tentu saja ini hipotetikal dan tidak ada jaminan bahwa pilihan formasi 4-3-3 dengan tengah Alonso, Lass, Khedira lebih baik dibanding 4-2-3-1 dengan Ozil.
Masalah terbesar dengan "menekan tinggi ke atas", adalah stamina, dan ini terlihat dalam permainan kemarin. 30 menit pertama Real sukses menekan, tapi ini dibayar mahal dengan stamina mereka yang terkuras. Apalagi menekan Barca jauh ke atas, yang memiliki passing work terbaik saat ini, tentu jauh lebih melelahkan. Harapan Madrid dan Mou tentu meraih minimal 2 gol dalam 30 menit pertama ini. Di sini terlihat kepercayaan diri yang sangat besar dari Mou dan Madrid, karena boleh dibilang ini pertaruhan "all in", bila gagal maka habis sudah. Bila ini terjadi, Madrid tinggal mundur dan memainkan counter attacking football seperti biasa. Hanya sayang ini tidak terjadi. Dan saat mereka "hanya" mampu unggul 1-0 dalam 30 menit pertama, maka kebobolan hanya masalah waktu.
Gambling Mou dan Wenger dengan Arsenalnya dulu dengan menekan Barca ke depan memang salah satu pilihan logis, tapi mungkin bukan jawaban terbaik untuk menghadapi Barca.
Kunci dari permainan kemarin adalah 30 menit pertama, karena inilah titik terpenting dengan pilihan yang diambil Mou dan Madrid. They won the initial 30th minute battle, but not enough. Just not enough.
Salah satu masalah lain dengan pendekatan Madrid kemarin, pilihan untuk pressure 30 menit pertama, adalah transisi ke bertahan. Saat ini tidak ada tim yang sanggup untuk pressure sepanjang 90 menit, kecuali mungkin Korsel di PD 2002. Dan transisi ini mutlak harus dilakukan oleh Madrid, apalagi mengingat hanya beberapa hari sebelumnya mereka melakukan tandang ke markas Ajax, yang tentu faktor kelelahan harus dipertimbangkan. Transisi ke bertahan ini harus dilakukan supaya bisa tetap berlari hingga ke menit 90. Kebobolan di menit 33 itu sangat mungkin karena faktor transisi ini, saat tim bermain menekan jauh ke depan,maka transisi ke bertahan bukanlah hal yang mudah, bahkan untuk tim sekelas Madrid.
Dari pertandingan tersebut saat ini memang harus diakui bahwa kombinasi possession football Barca dengan kegeniusan seorang Lionel Messi memanglah menjadikan Barca+Messi adalah tim terbaik saat ini. A team to beat ..
Jujur perseteruan Madrid - Barca ini sudah tidak sehat buatku, karena membuatku sering terjaga memikirkan bagaimana cara mengalahkan Barca, wkwkwk. Ya, jujur saja aku bosan dengan permainan Barca ini. Karena gara-gara Barca, semua orang mendewakan possesion footbal atau tiki-taka atau apapun istilahnya .. Padahal diriku sendiri sedari dulu adalah seorang yang menyukai permainan possession football, bahkan bila main Winning Eleven, FIFA atau game sebangsanya. Banyak orang bilang ketika itu kalau melawanku suka bilang permainanku membosankan, karena hanya oper oper ke sana kemari. Eh sekarang sepertinya orang-orang itu pula yang mendewa-dewakan possession footbal itu. Jadi sekarang aku ingin melihat runtuhnya possession football itu .. Possession football menurutku memang merupakan the ultimate way to play football, dan jujur aku tidak tahu cara mengatasinya tanpa memainkan 10 bek di belakang garis. Tapi dengan bertahan seperti itu paling-paling hanya akan draw bukan menang. So?
Salam
Kesimpulanku kalau mau mengalahkan Barca, memang harus jadi banci dan siap-siap diolok-olok para pecinta "attacking football" di dunia ini. Hanya saja kadang mereka lupa, cara bermain bola itu tidak hanya satu. Dan melayani permainan possession football barca dengan permainan menyerang sama saja bunuh diri. Untuk urusan posession football saat ini memang Barca yang terbaik.
Dan terus terang saja, saat ini Real Madrid tidak punya kapasitas untuk melayani Barca. Hanya tim-tim dengan disiplin dan stamina yang baik yang bisa mengalahkan Barca saat ini, itu kenapa Liverpool dan Inter bisa menang lawan Barca. Keunggulan Madrid yaitu di serangan, sayangnya Barca masih setingkat lebih baik.
Sedikit mengulas permainan kemarin:
Teka-teki bagaimana Mou akan memainkan permainannya terjawab sudah, dengan pressuring high up the field. Ini memang logis, dan ini salah satu pilihan untuk bisa menekan Barca dan merusak ritme mereka. Hanya yang tidak aku mengerti adalah pilihan memainkan Ozil di tengah dalam pola 4-2-3-1. Pola 4-2-3-1 memang salah satu pola ideal untuk overloading lini tengah, ini mungkin maksud Mou. Di sisi lain hampir separuh musim ini Madrid sudah terbiasa dengan pola ini. Jujur saja Madrid & Mou musim ini agak terlalu monoton. Dengan pertimbangan "kebiasaan" ini mungkin kenapa Ozil dipertahankan dalam Starting 11. Tapi pilihan top 4 ini menjadi potongan yang salah dengan ide "menekan tinggi ke depan" tadi. Mungkin lebih baik bila Ozil ditarik dan diganti dengan Khedira, dan pola 4-2-3-1 diubah menjadi 4-3-3 seperti saat Madrid menghadapi Valencia, dengan Alonso di posisi regista di belakang dua tameng Lass dan Khedira. Top 3 Madrid tentu tetap: Ronaldo, Benzema, dan Di Maria. Pilihan Benzema di atas Higuain bisa dimengerti mengingat work rate Benzema dan kemampuan untuk pressure nya lebih baik di atas Higuain. Lain cerita bila Madrid memilih parkir bis, maka Higuain lebih cocok. tentu saja ini hipotetikal dan tidak ada jaminan bahwa pilihan formasi 4-3-3 dengan tengah Alonso, Lass, Khedira lebih baik dibanding 4-2-3-1 dengan Ozil.
Masalah terbesar dengan "menekan tinggi ke atas", adalah stamina, dan ini terlihat dalam permainan kemarin. 30 menit pertama Real sukses menekan, tapi ini dibayar mahal dengan stamina mereka yang terkuras. Apalagi menekan Barca jauh ke atas, yang memiliki passing work terbaik saat ini, tentu jauh lebih melelahkan. Harapan Madrid dan Mou tentu meraih minimal 2 gol dalam 30 menit pertama ini. Di sini terlihat kepercayaan diri yang sangat besar dari Mou dan Madrid, karena boleh dibilang ini pertaruhan "all in", bila gagal maka habis sudah. Bila ini terjadi, Madrid tinggal mundur dan memainkan counter attacking football seperti biasa. Hanya sayang ini tidak terjadi. Dan saat mereka "hanya" mampu unggul 1-0 dalam 30 menit pertama, maka kebobolan hanya masalah waktu.
Gambling Mou dan Wenger dengan Arsenalnya dulu dengan menekan Barca ke depan memang salah satu pilihan logis, tapi mungkin bukan jawaban terbaik untuk menghadapi Barca.
Kunci dari permainan kemarin adalah 30 menit pertama, karena inilah titik terpenting dengan pilihan yang diambil Mou dan Madrid. They won the initial 30th minute battle, but not enough. Just not enough.
Salah satu masalah lain dengan pendekatan Madrid kemarin, pilihan untuk pressure 30 menit pertama, adalah transisi ke bertahan. Saat ini tidak ada tim yang sanggup untuk pressure sepanjang 90 menit, kecuali mungkin Korsel di PD 2002. Dan transisi ini mutlak harus dilakukan oleh Madrid, apalagi mengingat hanya beberapa hari sebelumnya mereka melakukan tandang ke markas Ajax, yang tentu faktor kelelahan harus dipertimbangkan. Transisi ke bertahan ini harus dilakukan supaya bisa tetap berlari hingga ke menit 90. Kebobolan di menit 33 itu sangat mungkin karena faktor transisi ini, saat tim bermain menekan jauh ke depan,maka transisi ke bertahan bukanlah hal yang mudah, bahkan untuk tim sekelas Madrid.
Dari pertandingan tersebut saat ini memang harus diakui bahwa kombinasi possession football Barca dengan kegeniusan seorang Lionel Messi memanglah menjadikan Barca+Messi adalah tim terbaik saat ini. A team to beat ..
Jujur perseteruan Madrid - Barca ini sudah tidak sehat buatku, karena membuatku sering terjaga memikirkan bagaimana cara mengalahkan Barca, wkwkwk. Ya, jujur saja aku bosan dengan permainan Barca ini. Karena gara-gara Barca, semua orang mendewakan possesion footbal atau tiki-taka atau apapun istilahnya .. Padahal diriku sendiri sedari dulu adalah seorang yang menyukai permainan possession football, bahkan bila main Winning Eleven, FIFA atau game sebangsanya. Banyak orang bilang ketika itu kalau melawanku suka bilang permainanku membosankan, karena hanya oper oper ke sana kemari. Eh sekarang sepertinya orang-orang itu pula yang mendewa-dewakan possession footbal itu. Jadi sekarang aku ingin melihat runtuhnya possession football itu .. Possession football menurutku memang merupakan the ultimate way to play football, dan jujur aku tidak tahu cara mengatasinya tanpa memainkan 10 bek di belakang garis. Tapi dengan bertahan seperti itu paling-paling hanya akan draw bukan menang. So?
Salam
Tuesday, August 23, 2011
Rencana Penjualan PSG HP & Masa Depan PC
Saat sedang iseng beselancar di dunia maya, saya menemukan satu artikel yang menarik perhatian saya, yaitu mengenai rencana penutupan atau penjualan divisi PSG HP. Divisi PSG, kependekan dari Personal System Group, adalah divisi yang membawahi PC (personal computer), baik desktop maupun laptop, dan juga tablet dll.
Di dalam artikel di situs Anandtech, HP to Discontinue webOS Hardware, Discussing the Future of webOS, memang jelas bahwa HP akan menutup divisi webOS Hardware nya karena dipandang tidak terlalu menjanjikan. Mungkin karena persaingan yang keras dari Apple dengan iPad nya, dan Google dengan Androidnya. Berita penutupan webOS ini tidak terlalu mengagetkan saya, lain halnya dengan rencana penjualan group PSG HP.
Hingga saat ini, HP masih merupakan penguasa nomor satu untuk pangsa pasar personal computer. Meskipun demikian di dalam laporan kuartal ketiga HP (HP Reports Third Quarter 2011 Results and Initiates Company Transformation), HP menyatakan bahwa pendapatannya dari sektor ini turun 3% dari tahun ke tahun. Mungkin atas dasar ini HP merasa perlu untuk memikirkan ulang posisinya di sektor PC.
Bila memang HP jadi menjual atau melepas divisi PSG-nya, maka berarti HP akan mengikuti langkah IBM ketika melepas divisi personal computernya, meskipun sejauh mana HP akan melakukan persisnya masih perlu kita nantikan.
Rencana HP ini, di samping mengagetkan karena pangsa pasarnya yang besar, yang lebih menarik adalah boleh jadi ini adalah sinyal semakin meredupnya pangsa pasar personal PC, terutama mungkin untuk desktop dengan semakin maraknya tablet dan laptop murah. Fungsi desktop sedikit demi sedikit digantikan oleh laptop yang kemampuannya semakin besar saat ini, bahkan untuk fungsi-fungsi pekerjaan di kantor, praktis hampir semua yang bisa dilakukan oleh desktop juga bisa dilakukan oleh laptop ditambah dengan mobilitasnya.
Namun apakah memang pasar personal computer akan benar-benar hilang dalam waktu dekat ini? Saya rasa tidak demikian adanya. Personal computer bagi pengguna rumahan memang saya rasa mengalami penurunan permintaan yang besar, karena di samping harganya yang hampir sama dengan laptop sekarang ini, orang juga semakin beralih ke tablet untuk keperluan personal. Memang fungsi tablet belum sepenuhnya mampu menggantikan fungsi personal computer, baik laptop maupun desktop, akan tetapi sedikit banyak berpengaruh dalam mengurangi pangsa pasar personal computer.
Bagi pengguna rumahan-pun, saya pikir personal computer tetap akan mendapatkan tempatnya meskipun mungkin tidak sebesar dulu. Desktop/laptop tetap diperlukan untuk fungsi-fungsi utama terkait pekerjaan, seperti mengetik, spreadsheet, dan juga untuk media penyimpanan. Saya sendiri menggunakan PC di rumah untuk nyaris semua kebutuhan tersebut ditambah sebagai fungsi pemusatan penyimpanan data saya, seperti foto-foto keluarga dan lain-lain.Desktop juga saya rasa tetap akan mendapatkan tempat untuk para enthusiast seperti para pecinta game PC atau untuk keperluan image editing design dan lain-lain.
Di sisi pengguna kantoran, saya yakin PC masih memiliki pangsa pasar yang besar, dan di sinilah letak kekuatan pasar PC. Dan di sini juga manufaktur besar seperti HP seharusnya memfokuskan dirinya. Perkantoran dan bisnis, dalam memilih brand PC, tentu lebih mengutamakan layanan yang reliable dan sustainable. Hal inilah yang bisa ditawarkan oleh manufaktur besar seperti HP, Dell, Lenovo dan lain-lain. Dalam bisnis, saya tentu akan memilih brand yang saya lihat terpercaya, mampu memberikan layanan servis purna jual yang memuaskan, dan sustainable. Saya tentunya tidak akan memilih brand yang kembang kempis, tahun ini ada, tahun depan entah ke mana.
HP dalam hal ini sebetulnya saya rasa memiliki pondasi yang cukup kuat di pasar Indonesia dengan jaringan layanan servisnya yang cukup baik dibanding merk-merk lain. Dan mungkin bila HP, atau vendor lain, benar-benar menggarap ceruk pasar ini secara serius saya yakin akan mampu memberikan pendapatan yang cukup stabil.
Bagaimana nanti HP memposisikan divisi PSG nya, sekali lagi, masih perlu kita nantikan.
Di dalam artikel di situs Anandtech, HP to Discontinue webOS Hardware, Discussing the Future of webOS, memang jelas bahwa HP akan menutup divisi webOS Hardware nya karena dipandang tidak terlalu menjanjikan. Mungkin karena persaingan yang keras dari Apple dengan iPad nya, dan Google dengan Androidnya. Berita penutupan webOS ini tidak terlalu mengagetkan saya, lain halnya dengan rencana penjualan group PSG HP.
Hingga saat ini, HP masih merupakan penguasa nomor satu untuk pangsa pasar personal computer. Meskipun demikian di dalam laporan kuartal ketiga HP (HP Reports Third Quarter 2011 Results and Initiates Company Transformation), HP menyatakan bahwa pendapatannya dari sektor ini turun 3% dari tahun ke tahun. Mungkin atas dasar ini HP merasa perlu untuk memikirkan ulang posisinya di sektor PC.
Bila memang HP jadi menjual atau melepas divisi PSG-nya, maka berarti HP akan mengikuti langkah IBM ketika melepas divisi personal computernya, meskipun sejauh mana HP akan melakukan persisnya masih perlu kita nantikan.
Rencana HP ini, di samping mengagetkan karena pangsa pasarnya yang besar, yang lebih menarik adalah boleh jadi ini adalah sinyal semakin meredupnya pangsa pasar personal PC, terutama mungkin untuk desktop dengan semakin maraknya tablet dan laptop murah. Fungsi desktop sedikit demi sedikit digantikan oleh laptop yang kemampuannya semakin besar saat ini, bahkan untuk fungsi-fungsi pekerjaan di kantor, praktis hampir semua yang bisa dilakukan oleh desktop juga bisa dilakukan oleh laptop ditambah dengan mobilitasnya.
Namun apakah memang pasar personal computer akan benar-benar hilang dalam waktu dekat ini? Saya rasa tidak demikian adanya. Personal computer bagi pengguna rumahan memang saya rasa mengalami penurunan permintaan yang besar, karena di samping harganya yang hampir sama dengan laptop sekarang ini, orang juga semakin beralih ke tablet untuk keperluan personal. Memang fungsi tablet belum sepenuhnya mampu menggantikan fungsi personal computer, baik laptop maupun desktop, akan tetapi sedikit banyak berpengaruh dalam mengurangi pangsa pasar personal computer.
Bagi pengguna rumahan-pun, saya pikir personal computer tetap akan mendapatkan tempatnya meskipun mungkin tidak sebesar dulu. Desktop/laptop tetap diperlukan untuk fungsi-fungsi utama terkait pekerjaan, seperti mengetik, spreadsheet, dan juga untuk media penyimpanan. Saya sendiri menggunakan PC di rumah untuk nyaris semua kebutuhan tersebut ditambah sebagai fungsi pemusatan penyimpanan data saya, seperti foto-foto keluarga dan lain-lain.Desktop juga saya rasa tetap akan mendapatkan tempat untuk para enthusiast seperti para pecinta game PC atau untuk keperluan image editing design dan lain-lain.
Di sisi pengguna kantoran, saya yakin PC masih memiliki pangsa pasar yang besar, dan di sinilah letak kekuatan pasar PC. Dan di sini juga manufaktur besar seperti HP seharusnya memfokuskan dirinya. Perkantoran dan bisnis, dalam memilih brand PC, tentu lebih mengutamakan layanan yang reliable dan sustainable. Hal inilah yang bisa ditawarkan oleh manufaktur besar seperti HP, Dell, Lenovo dan lain-lain. Dalam bisnis, saya tentu akan memilih brand yang saya lihat terpercaya, mampu memberikan layanan servis purna jual yang memuaskan, dan sustainable. Saya tentunya tidak akan memilih brand yang kembang kempis, tahun ini ada, tahun depan entah ke mana.
HP dalam hal ini sebetulnya saya rasa memiliki pondasi yang cukup kuat di pasar Indonesia dengan jaringan layanan servisnya yang cukup baik dibanding merk-merk lain. Dan mungkin bila HP, atau vendor lain, benar-benar menggarap ceruk pasar ini secara serius saya yakin akan mampu memberikan pendapatan yang cukup stabil.
Bagaimana nanti HP memposisikan divisi PSG nya, sekali lagi, masih perlu kita nantikan.
Wednesday, July 27, 2011
Sedikit Telaah Peristiwa Norway
Norway bombing, bom bali, bom marriot, pelepasan gas maut (lupa namanya) di stasiun bawah tanah Jepang dahulu, dan lain sebagainya, bila mau kita tarik satu garis persamaannya, maka tak pelak itu adalah EKSTRIMISME.
Namanya EKSTRIMISME ini tidak pandang bulu, tidak pandang baju, tidak pandang akidah, iman, agama, ataupun pandangan hidupnya.
Bila kita lihat, si tersangka pelaku pembunuhan massal di Norway, Anders Behring Breivik ini, adalah orang yang melek teknologi, minimal adalah penggemar video game perang, yang dalam asumsiku minimal dia kenal konsol game atau komputer, yang artinya kemungkinan besar melek teknologi dan internet juga.
Ada sedikit ulasan pelaku melakukan kenekatannya karena dia suka game perang.
Pertanyaannya, bila dikatakan bahwa dia nekat melakukan tindakan kejinya itu karena dia suka game perang, apakah benar demikian? Karena pada kenyataanya ada jutaan penggemar game perang lainnya tapi yang melakukan kekejian sepeti si Breivik ini hanya segelintir. Sekedar informasi, salah satu judul game perang yang digemari, Call of Duty, telah laku jutaan kopi, belum game-game perang lainnya yang cukup banyak jumlahnya. Jadi penggemar game perang tentu jumlahnya minimal adalah jutaan hingga belasan juta orang. Dari angka-angka ini tentunya agak sulit dinyatakan bahwa penggemar game perang identik dengan mendorong penggemarnya untuk bertindak keji.
Dari salah satu berita di kompas, "Siapa Anders Breivik Si Penebar Teror", dapat dibaca bahwa tersangka, Anders Breivik, juga orang yang melek internet.
Hal ini terus terang yang menarik bagi saya. Orang melek internet, minimal dalam pandangan saya, tentunya adalah orang yang melek informasi, di dalam internet informasi apapun dapat kita ketemukan.
Ini menariknya, kenapa orang yang melek informasi, dapat bertindak seekstrim itu? Bukankah dengan melek informasi asumsinya orang tersebut seharusnya lebih terbuka dan lebih menghormati perbedaan? Hal ini mengingat sebagai netizen tentu orang tersebut terbiasa berhadapan dalam dunia yang tidak hanya multikultural tapi juga multipaham dan multi-multi lainnya.
Fenomena Norway, dan beberapa kasus lainnya, sedikit banyak memperkuat pandangan saya dahulu bahwa keterbukaan informasi, salah satunya yaitu melalui media internet, yang idealnya membuat masyarakat semakin terbuka, malah sebaliknya kadang, sebagai salah satu eksesnya, juga menjadikan orang semakin extreme.
ALASANNYA?
Di dalam keterbukaan informasi, terutama dengan adanya media internet, segala macam informasi, baik positif-negatif, kiri-kanan, akan mudah kita ketemukan. Permasalahannya hanyalah informasi seperti apa yang ingin kita cari. Bila ada pepatah orang melihat hanya melalui kacamatanya, bila orang berpandangan A, sadar tak sadar ia akan mencari dan menemukan segala macam informasi yang mendukung pandangan A nya tadi.
Hal ini pulalah yang terjadi dengan si Anders Breivik ini. Pada dasarnya Anders Breivik mungkin telah memiliki pandangan yang ekstrim kanan, dengan akses informasi yang dimilikinya, alih-alih ekstrimnya berkurang malahan menjadi semakin kuat yang kemudian berkulminasi di peristiwa Norway tersebut.
SEMUA INFORMASI ADA DI INTERNET, TINGGAL INFORMASI SEPERTI APA YANG ANDA INGIN BACA DAN TEMUKAN!
Pun demikian juga halnya dengan peristiwa-peristiwa lain seperti bom bali dan lain-lain. Bukan tidak mungkin bahwa pelaku juga adalah orang yang melek informasi. Bila anda memang berniat menjadi pembom, di internet juga banyak informasinya. Dan bakal ada banyak pandangan dan informasi penguat keyakinan anda tersebut.
Sebelum salah ditafsirkan, PERLU DIGARISBAWAHI bahwa KETERBUKAAN INFORMASI, salah satunya dengan media internet, DENGAN SEGALA EKSES NEGATIFNYA, MASIHLAH MEMILIKI BANYAK HAL POSITIF BAGI UMAT MANUSIA.
Saya pribadi percaya bahwa ini memang salah satu fase yang musti dilalui umat manusia untuk kemajuan. Hanya saat ini tidak akan saya bahas. OK, lanjut ...
YANG PERLU DIGARISBAWAHI JUGA, dalam era keterbukaan informasi seperti ini, IDENTITAS PRIBADI dan KEKUATAN PRIBADI menjadi hal yang sangat penting. Karena hal inilah yang menjadi landasan utama bagaimana PRIBADI membentuk KEDIRIANNYA.
Apakah kita akan menjadi seperti Anders Breivik yang lain ataukah kita akan menjadi PRIBADI TERBUKA yang POSITIF, semuanya hanya bisa kita temukan di dalam DIRI KITA SENDIRI, bukan di INTERNET atau di LUARAN SANA.
Sebagai sedikit penutup untuk tulisan kali ini, saya pernah membaca satu tulisan yang intinya semacam ini:
We still live in hedgehog world. We can not live too close with one another without risking getting hurt. Seperti hedgehog yang tentunya tidak bisa terlalu berdekatan satu sama lain karena durinya. Pun demikian kita manusia. Keterbukaan informasi telah memaksa kita umat manusia untuk menjadi sangat dekat satu sama lain dengan hilangnya jarang dan sekat penghalang. Hanya kadang kita mungkin lupa bahwa kita masih sangat mudah terluka, dan dengan demikian mungkin kita tak sadar pula untuk semakin mempertebal kulit dan cangkang kita supaya tidak terluka, meskipun itu berarti melukai orang lain, seperti ekstrimnya tragedi Norway.
Sedikit permenungan saja.
ps: sebelum ngelantur, aku tutup aja ceramah ini, hanya rasanya gatel untuk nulis ini karena kepikiran dan sudah utang ke teman untuk nulis ^^
ps2: tulisan ini sejatinya ditulis untuk sebuah bahasan di sebuah trit di Forum Kompas, tapi rasanya menarik juga untuk di-share di sini
Namanya EKSTRIMISME ini tidak pandang bulu, tidak pandang baju, tidak pandang akidah, iman, agama, ataupun pandangan hidupnya.
Bila kita lihat, si tersangka pelaku pembunuhan massal di Norway, Anders Behring Breivik ini, adalah orang yang melek teknologi, minimal adalah penggemar video game perang, yang dalam asumsiku minimal dia kenal konsol game atau komputer, yang artinya kemungkinan besar melek teknologi dan internet juga.
Ada sedikit ulasan pelaku melakukan kenekatannya karena dia suka game perang.
Pertanyaannya, bila dikatakan bahwa dia nekat melakukan tindakan kejinya itu karena dia suka game perang, apakah benar demikian? Karena pada kenyataanya ada jutaan penggemar game perang lainnya tapi yang melakukan kekejian sepeti si Breivik ini hanya segelintir. Sekedar informasi, salah satu judul game perang yang digemari, Call of Duty, telah laku jutaan kopi, belum game-game perang lainnya yang cukup banyak jumlahnya. Jadi penggemar game perang tentu jumlahnya minimal adalah jutaan hingga belasan juta orang. Dari angka-angka ini tentunya agak sulit dinyatakan bahwa penggemar game perang identik dengan mendorong penggemarnya untuk bertindak keji.
Dari salah satu berita di kompas, "Siapa Anders Breivik Si Penebar Teror", dapat dibaca bahwa tersangka, Anders Breivik, juga orang yang melek internet.
Hal ini terus terang yang menarik bagi saya. Orang melek internet, minimal dalam pandangan saya, tentunya adalah orang yang melek informasi, di dalam internet informasi apapun dapat kita ketemukan.
Ini menariknya, kenapa orang yang melek informasi, dapat bertindak seekstrim itu? Bukankah dengan melek informasi asumsinya orang tersebut seharusnya lebih terbuka dan lebih menghormati perbedaan? Hal ini mengingat sebagai netizen tentu orang tersebut terbiasa berhadapan dalam dunia yang tidak hanya multikultural tapi juga multipaham dan multi-multi lainnya.
Fenomena Norway, dan beberapa kasus lainnya, sedikit banyak memperkuat pandangan saya dahulu bahwa keterbukaan informasi, salah satunya yaitu melalui media internet, yang idealnya membuat masyarakat semakin terbuka, malah sebaliknya kadang, sebagai salah satu eksesnya, juga menjadikan orang semakin extreme.
ALASANNYA?
Di dalam keterbukaan informasi, terutama dengan adanya media internet, segala macam informasi, baik positif-negatif, kiri-kanan, akan mudah kita ketemukan. Permasalahannya hanyalah informasi seperti apa yang ingin kita cari. Bila ada pepatah orang melihat hanya melalui kacamatanya, bila orang berpandangan A, sadar tak sadar ia akan mencari dan menemukan segala macam informasi yang mendukung pandangan A nya tadi.
Hal ini pulalah yang terjadi dengan si Anders Breivik ini. Pada dasarnya Anders Breivik mungkin telah memiliki pandangan yang ekstrim kanan, dengan akses informasi yang dimilikinya, alih-alih ekstrimnya berkurang malahan menjadi semakin kuat yang kemudian berkulminasi di peristiwa Norway tersebut.
SEMUA INFORMASI ADA DI INTERNET, TINGGAL INFORMASI SEPERTI APA YANG ANDA INGIN BACA DAN TEMUKAN!
Pun demikian juga halnya dengan peristiwa-peristiwa lain seperti bom bali dan lain-lain. Bukan tidak mungkin bahwa pelaku juga adalah orang yang melek informasi. Bila anda memang berniat menjadi pembom, di internet juga banyak informasinya. Dan bakal ada banyak pandangan dan informasi penguat keyakinan anda tersebut.
Sebelum salah ditafsirkan, PERLU DIGARISBAWAHI bahwa KETERBUKAAN INFORMASI, salah satunya dengan media internet, DENGAN SEGALA EKSES NEGATIFNYA, MASIHLAH MEMILIKI BANYAK HAL POSITIF BAGI UMAT MANUSIA.
Saya pribadi percaya bahwa ini memang salah satu fase yang musti dilalui umat manusia untuk kemajuan. Hanya saat ini tidak akan saya bahas. OK, lanjut ...
YANG PERLU DIGARISBAWAHI JUGA, dalam era keterbukaan informasi seperti ini, IDENTITAS PRIBADI dan KEKUATAN PRIBADI menjadi hal yang sangat penting. Karena hal inilah yang menjadi landasan utama bagaimana PRIBADI membentuk KEDIRIANNYA.
Apakah kita akan menjadi seperti Anders Breivik yang lain ataukah kita akan menjadi PRIBADI TERBUKA yang POSITIF, semuanya hanya bisa kita temukan di dalam DIRI KITA SENDIRI, bukan di INTERNET atau di LUARAN SANA.
Sebagai sedikit penutup untuk tulisan kali ini, saya pernah membaca satu tulisan yang intinya semacam ini:
We still live in hedgehog world. We can not live too close with one another without risking getting hurt. Seperti hedgehog yang tentunya tidak bisa terlalu berdekatan satu sama lain karena durinya. Pun demikian kita manusia. Keterbukaan informasi telah memaksa kita umat manusia untuk menjadi sangat dekat satu sama lain dengan hilangnya jarang dan sekat penghalang. Hanya kadang kita mungkin lupa bahwa kita masih sangat mudah terluka, dan dengan demikian mungkin kita tak sadar pula untuk semakin mempertebal kulit dan cangkang kita supaya tidak terluka, meskipun itu berarti melukai orang lain, seperti ekstrimnya tragedi Norway.
Sedikit permenungan saja.
ps: sebelum ngelantur, aku tutup aja ceramah ini, hanya rasanya gatel untuk nulis ini karena kepikiran dan sudah utang ke teman untuk nulis ^^
ps2: tulisan ini sejatinya ditulis untuk sebuah bahasan di sebuah trit di Forum Kompas, tapi rasanya menarik juga untuk di-share di sini
Thursday, July 21, 2011
id.Antasena v3.0
Sedikit iseng sore hingga malam hari ini, mencoba mengedit halaman lama, sayang aku tidak terlalu pandai bikin design, jadi ya beginilah jadinya. Idenya sih menyederhanakan tampilan v2.1 kemaren, dan sekaligus juga untuk mengikuti perkembangan template blog yang semakin canggih dan mudah. Theme yang digunakan di v2.1 sayangnya tidak mengakomodasi beberapa perkembangan yang ada, sehingga jadilah v3.0 ini. Sepertinya cukup mudah dan simpel untuk dibaca. Jadi untuk sementara aku akan gunakan theme ini, entah sampai nanti iseng lagi atau ada ide baru :)
Wednesday, July 20, 2011
Antasena Return
Tak terasa sudah 3 tahun diriku tidak aktif menulis di blog ini lagi karena kesibukan, males, dll :) Mulai inget blog ini lagi juga karena temen ada nanya cara bikin blog, eh, jadi keinget, lah blog gua sendiri kagak keurus, wkwkwk.
Menulis kadang memang butuh waktu dan pikiran, terutama buat orang melankolik sok perfeksionis macam diriku ini, jadi idenya segudang, keluarnya cuman sekalimat dua kalimat, terus pusing sendiri, dan gak keluar deh tulisan itu pada akhirnya, sigh.
Belakangan ini iseng blogwalking ke beberapa blog kenalan, eh ternyata banyak yang masih aktif, meski banyak juga yang timbul tenggelam macam diriku, beberapa malah sudah hilang blog-nya entah karena apa. Di sisi lain di lingkungan teman yang lain mulai muncul lagi euforia untuk menulis, entah lewat blog, tulisan di media-media citizen journalism seperti kompasiana, koki dll.
Melihat gairah baru di kalangan temen, apalagi dengan munculnya style-style tulisan baru, tulisan dan cerita yang bagus-bagus, akhirnya kembali membangkitkan gairahku untuk menulis. Aku sempat berpikir untuk membuat blog baru, atau menulis di media lain, tapi akhirnya kuputuskan untuk kembali ke blog ini. Salah satu tempat aku mulai menulis. Media lain aku mulai menulis adalah koki, kreasi alm. Zeverina, yang meskipun aku hanya sempat menyumbang satu dua tulisan, kurasa telah sangat berjasa besar dalam membentuk karakter tulisanku di media elektronik ini.
Berita duka meninggalnya mamak Z dan juga sebelumnya perpecahan koki, yang hingga kini tak kuketahui cerita ataupun sebab musababnya, jujur sedikit membuatku agak sedih. Tapi kurasa di sisi lain warisan Z tetap berlangsung, dengan banyaknya orang yang mulai belajar menulis. Sedikit banyak tulisan-tulisan mereka tentunya telah menyumbangkan sesuatu di dunia ini.
Lah, kok jadi curhat, padahal niatnya cuman mau nulis sedikit aja ^^
Sedang berpikir, apakah mau edit layout, well, maybe later, aku masih suka layout ini, hanya sayang sedikit berantakan.Sementara ini mau cari ide dulu buat layout blog pesanan tetangga ..
^^
Menulis kadang memang butuh waktu dan pikiran, terutama buat orang melankolik sok perfeksionis macam diriku ini, jadi idenya segudang, keluarnya cuman sekalimat dua kalimat, terus pusing sendiri, dan gak keluar deh tulisan itu pada akhirnya, sigh.
Belakangan ini iseng blogwalking ke beberapa blog kenalan, eh ternyata banyak yang masih aktif, meski banyak juga yang timbul tenggelam macam diriku, beberapa malah sudah hilang blog-nya entah karena apa. Di sisi lain di lingkungan teman yang lain mulai muncul lagi euforia untuk menulis, entah lewat blog, tulisan di media-media citizen journalism seperti kompasiana, koki dll.
Melihat gairah baru di kalangan temen, apalagi dengan munculnya style-style tulisan baru, tulisan dan cerita yang bagus-bagus, akhirnya kembali membangkitkan gairahku untuk menulis. Aku sempat berpikir untuk membuat blog baru, atau menulis di media lain, tapi akhirnya kuputuskan untuk kembali ke blog ini. Salah satu tempat aku mulai menulis. Media lain aku mulai menulis adalah koki, kreasi alm. Zeverina, yang meskipun aku hanya sempat menyumbang satu dua tulisan, kurasa telah sangat berjasa besar dalam membentuk karakter tulisanku di media elektronik ini.
Berita duka meninggalnya mamak Z dan juga sebelumnya perpecahan koki, yang hingga kini tak kuketahui cerita ataupun sebab musababnya, jujur sedikit membuatku agak sedih. Tapi kurasa di sisi lain warisan Z tetap berlangsung, dengan banyaknya orang yang mulai belajar menulis. Sedikit banyak tulisan-tulisan mereka tentunya telah menyumbangkan sesuatu di dunia ini.
Lah, kok jadi curhat, padahal niatnya cuman mau nulis sedikit aja ^^
Sedang berpikir, apakah mau edit layout, well, maybe later, aku masih suka layout ini, hanya sayang sedikit berantakan.Sementara ini mau cari ide dulu buat layout blog pesanan tetangga ..
^^
Saturday, October 09, 2010
2 years Vacuum
Weleh, baru nyadar kalau ini blog sudah tak kurawat selama 2 tahun, ck ck ck
Jadi pengen update, tapi terlalu larut kalau sekarang, bobo dulu ah ... zzzzz
Jadi pengen update, tapi terlalu larut kalau sekarang, bobo dulu ah ... zzzzz
Monday, August 11, 2008
And Justice For All
Semenjak pindah ke Jakarta, sedikit demi sedikit saya merasakan adanya pengaruh aura materi ke dalam diri saya. Entah kenapa, tiba-tiba saya merasakan dorongan untuk bisa lebih, lebih, dan lebih (terutama secara materiil), saya menyebutnya aura materi. Saya tidak tahu kenapa bisa seperti itu, mungkin karena adanya cultural shock, dari daerah yang notabene tidak ada apa-apa, ke daerah yang serba gemerlap, jadi ya lihat apa2 jadi serba pengen, hehe .. Apalagi ketika berjumpa dengan rekan-rekan kuliah atau sma dulu, yang ketika bertukar nomer hape yang membuat hape tercinta saya langsung terlihat butut dengan gemerlapnya hape mereka, yang entah sudah lengkap dengan fasilitas 3G, 3.5G, PDAphone, kamera resolusi tinggi, touchscreen dan entah fasilitas apalagi yang membuat saya menjadi gagap teknologi .. gaptek. Juga ketika di kantor, saya sempat tergagap2 ketika harus berhadapan dengan pertanyaan2 dunia saya seputar blackberry (atau entah apa namanya itu), laptop terbaru, dll. Yang untung selalu bisa dipecahkan dengan call ke service center .. (thanks mas/mbak service center). Belum lagi beberapa kali dimintain tolong temen nyari komputer, laptop, dan beberapa pernak-pernik (gadget) lain - lain .. Yang cuman bisa bikin geleng-geleng ngeliatnya .. plus bikin ngeces2 ..
Keinginan untuk serba lebih juga didorong ketika tahu bahwa biaya pendidikan sekarang sudah selangit, biaya yang dulu cukup untuk kuliah+makan setahun sekarang cuman cukup untuk masukin anak ke SD. Belum lagi biaya fasilitas kesehatan, harga rumah dll yang semakin tinggi. Mau tidak mau ini membuat kami, saya dan istri, mulai berpikir untuk berinvestasi dan mendapatkan penghasilan lebih demi kelangsungan keluarga. Tuntutan yang sebelumnya tidak begitu terasa ketika saya di daerah, ternyata langsung terbentur ketika di Jakarta. Jakarta yang begitu gemerlap dengan segala fasilitas dan harganya.
Di lain pihak, setiap kali berjalan pulang atau berangkat ke kantor, saya melihat tukang koran, para pengojek yang berebut penumpang, anak kecil dan orang tua yang menjadi peminta-minta. Saya merasakan adanya suatu konflik di batin, yang di satu sisi saya melihat gampangnya uang diperoleh dan dihamburkan, sedangkan di lain sisi saya melihat bagaimana orang benar-benar harus berjuang dan sering bahkan mengorbankan harga diri dan etika demi beberapa lembar rupiah. Di sisi yang lain juga saya sangat bersyukur kepada-Nya atas segala kemurahan-Nya kepada kami sekeluarga. Dalam diskusi-diskusi kecil, sering saya menyuarakan sarkasme dan kegetiran saya kepada pemerintah yang saya anggap sudah buta dan tidak adil. Sering juga berdiskusi mengenai apa yang bisa kita lakukan, sekecil apapun itu.
Rasanya apapun itu saya belum menemukan jawaban dari hal ini. Padahal mah kata salah seorang kawan saya: be part of the solution, not the part of the problem. Halah, tapi kok ya gak gampang. Di satu sisi ada kewajiban untuk survive, terutama survive nya keluarga, di satu sisi ada benturan dilema dan keinginan untuk berbuat sesuatu merubah keadaan yang ada. Tapi yang pasti kita hanya bisa berusaha maju, meski kadang kita sadar bahwa kita salah, but that's life :)
Keinginan untuk serba lebih juga didorong ketika tahu bahwa biaya pendidikan sekarang sudah selangit, biaya yang dulu cukup untuk kuliah+makan setahun sekarang cuman cukup untuk masukin anak ke SD. Belum lagi biaya fasilitas kesehatan, harga rumah dll yang semakin tinggi. Mau tidak mau ini membuat kami, saya dan istri, mulai berpikir untuk berinvestasi dan mendapatkan penghasilan lebih demi kelangsungan keluarga. Tuntutan yang sebelumnya tidak begitu terasa ketika saya di daerah, ternyata langsung terbentur ketika di Jakarta. Jakarta yang begitu gemerlap dengan segala fasilitas dan harganya.
Di lain pihak, setiap kali berjalan pulang atau berangkat ke kantor, saya melihat tukang koran, para pengojek yang berebut penumpang, anak kecil dan orang tua yang menjadi peminta-minta. Saya merasakan adanya suatu konflik di batin, yang di satu sisi saya melihat gampangnya uang diperoleh dan dihamburkan, sedangkan di lain sisi saya melihat bagaimana orang benar-benar harus berjuang dan sering bahkan mengorbankan harga diri dan etika demi beberapa lembar rupiah. Di sisi yang lain juga saya sangat bersyukur kepada-Nya atas segala kemurahan-Nya kepada kami sekeluarga. Dalam diskusi-diskusi kecil, sering saya menyuarakan sarkasme dan kegetiran saya kepada pemerintah yang saya anggap sudah buta dan tidak adil. Sering juga berdiskusi mengenai apa yang bisa kita lakukan, sekecil apapun itu.
Rasanya apapun itu saya belum menemukan jawaban dari hal ini. Padahal mah kata salah seorang kawan saya: be part of the solution, not the part of the problem. Halah, tapi kok ya gak gampang. Di satu sisi ada kewajiban untuk survive, terutama survive nya keluarga, di satu sisi ada benturan dilema dan keinginan untuk berbuat sesuatu merubah keadaan yang ada. Tapi yang pasti kita hanya bisa berusaha maju, meski kadang kita sadar bahwa kita salah, but that's life :)
Monday, July 21, 2008
lannet.exe
This spyware is really annoying, I spent almost full days to diagnose the problems. The first symptom is quiet annoying, you will get a slow browsing issue, and in the end you won't be able to browse at all, except for some Microsoft sites. I don't know why we can browse some Microsoft sites, while the other is completely impossible. It seems that this spyware/malware is messing the winsock of Windows, making all browsers can not browse:
In IE 6 you will get an error message "Internet Explorer could not find the site"; in IE 7 you will get nearly the same message saying it couldn't open or find the site and strangely the address will change into "http:///" with triple slash; and in Firefox the browser is not showing anything at all, not even showing any sign of browsing.
What I did to remove the threat was simply removing the "lannet.exe" entry in the registry. And it seems that it's removing the problem. It will be best if we also scan the computer using the updated antivirus software.
In IE 6 you will get an error message "Internet Explorer could not find the site"; in IE 7 you will get nearly the same message saying it couldn't open or find the site and strangely the address will change into "http:///" with triple slash; and in Firefox the browser is not showing anything at all, not even showing any sign of browsing.
What I did to remove the threat was simply removing the "lannet.exe" entry in the registry. And it seems that it's removing the problem. It will be best if we also scan the computer using the updated antivirus software.
Friday, February 15, 2008
Holiday 15 Dec 07 - 6 Jan 08: Part I Medan - Jakarta
Foto di atas kuambil ketika kami terbang di atas bumi NAD untuk memulai perjalanan liburan (wuih, liburan bo' .. , hehe) kurang lebih hampir dua bulan yang lalu. Ya, lumayanlah, berlibur setelah lebih dari setengah tahun tidak kemana-mana, bosen juga deh :)
Rasanya seneng juga melihat bumi yang ternyata masih relatif cukup hijau di bumi NAD ini, meski aku juga melihat banyak daerah yang sudah gundul. Semoga hijaunya masih akan terus bertahan.
Bandara Medan, wow, inilah sedikit pemandangan di bandar udara Polonia Medan sekitar 2 minggu setelah peristiwa kebakaran yang terjadi (di awal Desember 07 kalo tidak salah). Pertama harap-harap cemas juga, jangan-jangan masih semrawut dll. Untunglah, meski seadanya tapi sudah cukup teratur. Btw suasananya jadi mirip suasana pesta pernikahan, hehe. Pake tratag dsb.
Manusia raksasa menyerang kota? Wow, no dude. Ini adalah foto kota Lego yang sedang diperbaiki oleh salah seorang staff akibat ada kereta lego yang terpental keluar dari jalur. Foto ini saya ambil saat mampir untuk bertemu seorang teman sekaligus servis laptop lama yang ngadat.
Wednesday, December 05, 2007
id.Antasena v2.1
Akhirnya, kayaknya udah final dulu nih defacing-nya. Palingan kalau mau nambah dikit-dikit aja. Jadilah ini wajah blog ku untuk tahun 2008. Kayaknya sih masih ada yang pengen aku tambah, dan mungkin ganti gambar, tapi sambil jalan lah. Yang pasti thanks buat freeskins untuk skin-nya.
Sekarang mau konsentrasi untuk content-nya, dan terutama untuk komit rajin nge-update blog.
Doakan saya ... :)
Sekarang mau konsentrasi untuk content-nya, dan terutama untuk komit rajin nge-update blog.
Doakan saya ... :)
Monday, December 03, 2007
id.Antasena v2.0
Fiuh ... Akhirnya saya memutuskan untuk merubah tampilan blog saya, setelah lebih dari 2 tahun menggunakan tampilan lama, id.Antasena v1.0. Ternyata gak mudah juga ganti tampilan, terlebih sudah lama saya gak ngutak-ngatik namanya web, html, dan semacamnya. Ini juga saya dapat templatenya dari situsnya freeskins. Kebetulan nemu yang cukup cocok ama saya.
Tampilan ini belum final, tapi gak yakin juga kapan bisa finalisasi, maklum terbatas waktu. Tampilan dasarnya saya rasa sudah fit, cuma masih ada beberapa yang saya masih kurang sreg dan butuh rehab lagi. Wheeewwww, take time lah. Hope to see v2.1 soon.
Cheerss ..
Tampilan ini belum final, tapi gak yakin juga kapan bisa finalisasi, maklum terbatas waktu. Tampilan dasarnya saya rasa sudah fit, cuma masih ada beberapa yang saya masih kurang sreg dan butuh rehab lagi. Wheeewwww, take time lah. Hope to see v2.1 soon.
Cheerss ..
Friday, November 30, 2007
Potret Kehidupan 4
Jari tangan TKW dipotong majikannya karena terlalu lama memotong rumput. Kejadian pemotongan ini sendiri terjadi pada bulan Maret lalu, namun baru dilaporkan pada 29 November 2007 ini di Pontianak.
Kejadian ini selengkapnya dapat dibaca di http://www.kompas.com/ver1/Nusantara/0711/29/234744.htm.
Kejadian ini selengkapnya dapat dibaca di http://www.kompas.com/ver1/Nusantara/0711/29/234744.htm.
Subscribe to:
Posts (Atom)
