Pelajaran akan hidup tidak ada hubungannya dengan gelar dan jabatan. Pagi ini aku terlibat perbincangan dengan salah seorang staff kami, seorang security. Mula-mula kami membicarakan akan kontrak beliau yang sedang diperbarui. Kontrak tersebut seluruhnya menggunakan bahasa Inggris. Yang kemarin beliau meminta saya menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Dalam perbincangan tersebut saya mengungkapkan keheranan saya dan atasan saya kenapa kontrak tersebut dalam bahasa Inggris seluruhnya, mengingat Bapak tersebut tidaklah bisa menggunakan Bahasa Inggris sama sekali. Kami pikir minimal kontrak tersebut harus dibuat rangkap dua, 1 bahasa Inggris, dan 1 dalam bahasa Indonesia.
Saya tanya ketika itu ketika menandatanganinya apa beliau mengerti apa yang tertera dalam kontrak tersebut. "Yang saya tahu sih cuman angkanya, hahaha" katanya seraya tertawa. Saya pun tertawa mendengar jawaban Bapak tersebut. Dari pembicaraan ini kami kemudian berbincang mengenai banyak hal. Mulai dari panasnya udara di Meulaboh ini, hingga ke banyak hal lain.
Salah satu hal yang menarik adalah ketika beliau berbicara mengenai pengalaman kerjanya. Ketika dulu bagaimana dia mulai dari bekerja dari bengkel dan kemudian bekerja di suatu perusahaan listrik. Beliau mengungkapkan sebetulnya bila dilihat dari pendapatan, ketika bekerja di perusahaan listrik ini justru pendapatannya lebih kecil daripada sebelumnya. Kenapa dia mau bekerja di perusahaan listrik tersebut, adalah karena beliau merasa perlu untuk menambah pengalaman dan keahliannya. Di samping itu beliau juga percaya bahwa karir adalah bersifat akar mengakar seperti mata rantai. Dengan bekerja di perusahaan listrik ini, disamping mendapatkan pengalaman baru, beliau juga berharap untuk memperluas pergaulannya. Kalau istilah kerennya menambah koneksi. Dan memang menurut beliau setelah beberapa lama bekerja di sana, beliau pun mulai mendapatkan kenalan dan pekerjaan-pekerjaan baru, seiring dengan itu pendapatannya pun bertambah.
Beliau juga menekankan akan pentingnya untuk mengatur penghasilan kita dan menabung semampu kita. Bagian mana yang harus kita gunakan untuk orang lain, seperti misalnya untuk keluarga kita. Bagian mana yang harus kita tabung, dan mana yang harus kita gunakan untuk keperluan kita. Beliau juga mengingatkan akan pentingnya memberikan sebagian penghasilan kita untuk keluarga, terutama orangtua kita. Bukan jumlahnya yang penting, tapi maknanyalah yang penting, ungkap beliau. Lebih bagus bila kita mungkin memberikannya dalam bentuk barang atau sesuatu yang kita tahu sedang dibutuhkan. Ini merupakan tanda perhatian terhadap keluarga, dan di lain pihak juga untuk menunjukkan bahwa kita telah benar dapat hidup mandiri.
Mengenai pekerjaan beliau juga menambahkan agar kita tidak takut menjalani pekerjaan kita, selama itu halal. Karena beliau yakin apapun yang kita lakukan akan membawa kita ke suatu tempat. Pengalaman yang telah kita alami suatu ketika akan memberikan manfaatnya yang besar tanpa kita sadari. Mulanya mungkin kecil dan kelihatan sepele, tapi siapa yang tahu kemudian hari. Beliau mengungkapkannya dengan kata-kata 'dengan umpan kecil mendapatkan hasil yang besar'. Mungkin ini sebenarnya pepatah dari bahasa Aceh, yang bila diterjemahkan mungkin tidak pas. Tapi maknanya kurang lebih dapat saya tangkap.
Orang bisa mendapatkan gelar dan jabatan yang tinggi, tapi dalam hal pelajaran hidup, setiap orang saya percaya memiliki pengalaman dan pelajarannya masing-masing. Masalahnya adalah bagaimana kita bisa belajar dari pengalaman dan pelajaran orang lain.
Sekali lagi : "stay hunger, stay foolish"
Sunday, July 10, 2005
Sunday, July 03, 2005
Awal Sebuah Perjalanan

Semilir udara pagi terasa sejuk mengalir di kedua belah sayapku. Kusapa mentari yang mulai malu-malu menyinarkan cahayanya.
"Hai sang surya, bagaimana dengan istirahatmu tadi malam?"
"Istirahat? Ah sahabatku, aku tidak mengenal kata istirahat. Bila aku beristirahat kehidupan akan berhenti di bumi. Mungkin suatu hari nanti aku bakal beristirahat, tapi tidak sekarang" ujar mentari lembut.
"O begitukah?" sahutku, sejujurnya aku tidak mengerti apa yang dikatakannya.
"Sudahlah sahabatku, tidak usah dipikirkan" katanya sambil tersenyum lembut, mengerti dengan kebingunganku.
"Maafkan aku, aku memang tidak paham dengan ucapanmu. Yang aku tahu tanpa dirimu pohon-pohon tidak dapat tumbuh, bunga-bunga tidak akan mekar, buah pun tidak akan ada. Dan aku tidak dapat makan. Aku mengerti tanpa dirimu, kami tiada."
"Hmm, bagus, rupanya sahabatku ini seorang pemikir juga" sahut mentari dengan senyumnya.
"Tidak, aku hanya melihat apa yang terjadi di sekitarku saja" jawabku.
"Ya, bagus untukmu" sahut mentari lagi.
"Tapi aku tidak mengerti kenapa engkau bilang tidak pernah beristirahat. Benarkah itu? Aku rasa setiap makhluk pasti membutuhkan istirahat"
"Haha, rupanya rasa ingin tahumu besar juga. Hmm, anggap saja waktu istirahatku masih amat sangat lama. Waktuku berbeda dengan dirimu sahabat" jawabnya tetap penuh teka-teki.
"Ya, aku tetap tidak paham, tapi aku juga sedang tidak ingin banyak berpikir, sudahlah. Aku hanya ingin menikmati suasana pagi ini" jawabku. Pagi ini memang aku tidak ingin sudah harus banyak berpikir, aku hanya ingin menikmati suasana saja.
"Bagus untukmu" katanya sambil tersenyum. "Banyak makhluk yang selalu berpikir sepanjang hidupnya, tapi tidak pernah berhenti sejenak saja untuk merasakan dan menikmati keajaiban yang ada di sekitarnya. Ambil dan gunakan waktumu, karena bila tidak dia akan lewat begitu saja"
"Mendengar bicaramu, engkaulah yang pemikir, bukan aku" kataku sambil tersenyum.
"Hahaha, benar-benar. Sudahlah, aku tidak akan mengganggumu lagi sahabat. Teruskan perjalananmu. Kemanakah engkau akan pergi?"
"Aku akan terbang ke barat, kudengar ada kawanan yang akan terbang ke selatan. Mungkin aku bisa bergabung"
"Engkau hendak pergi? Tidakkah engkau memiliki kehidupan yang cukup nyaman di sini sahabatku?"
"Benar, engkau benar. Di sini aku sudah cukup nyaman. Aku mempunyai banyak . Daerah ini juga sudah aku kenal dengan baik. Mencari makanpun aku tidak berkesusahan. Tapi aku merasa ada yang kurang. Dan aku ingin pergi ke tempat lain, menemukan apa yang kurang dari diriku ini"
"Begitu. Tidak banyak yang seperti engkau sahabat. Baiklah, bila itu yang menjadi kata hatimu, ikutilah sahabatku. Aku ada di atas sini melihatmu, dan kuharap engkau mendapatkannya" katanya tersenyum.
Lagi-lagi aku merasakan teka-teki di balik senyumnya. Tapi sudahlah, dia memang selalu begitu. Mungkin juga benar apa yang dibilangnya, bahwa waktunya berbeda dengan diriku. Tiada satu makhluk pun yang tahu berapa umurnya sebenarnya. Ketika ditanya dia hanya akan tersenyum, dan berkata lebih dari yang dapat kalian bayangkan. Jadi bila memang dia sudah ada begitu lama, mungkin dia sudah memiliki kebijakan yang lebih dari kami semua. Begitulah, selalu misterius. Lebih misterius daripada sang rembulan di malam hari.
"Baiklah, selamat jalan sang surya" kataku."Selamat jalan juga sahabatku" katanya sambil berlalu.
Sekilas masih kudengar rumpun pepohonan di kejauhan mengucapkan salamnya kepada mentari pagi. Kukepakkan sayapku sedikit lebih kuat, dan akupun berlalu.
Cerita ini baru dimulai, kita akan kembali melihat perjalanan sang 'aku' berikutnya ...
Saturday, July 02, 2005
1st week in Meulaboh
Duh, rasanya kangen deh dengan buku-bukuku. Agak menyesal juga kemarin waktu kesini gak bisa bawa banyak buku. Mana malam mingguan jauh dari kampung halaman, di kota yang masih berusaha bangun dari kesakitannya. Ya, Meulaboh dahulunya kota yang besar, kata orang disini sih, aku belum pernah kesini sebelumnya. Semenjak bencana 26 Des 2004, kota ini sekarang memang sudah jauh lebih baik. Di sini kita sudah cukup mudah mencari barang-barang kebutuhan kita. Jalanan pun sudah ramai. Tetapi tetaplah belum bisa disamakan dengan Banda Aceh. Di Banda Aceh sudah banyak tempat makan yang bisa kita kunjungi. Lagipula di Banda Aceh kita sudah bisa lebih bebas berjalan-jalan tanpa perlu mengikuti banyak prosedur seperti di sini.
Sepertinya aku mulai merasa agak bosan juga disini. Karena praktis disini kami tidak bisa kemana-mana, lagipula karena masih dianggap daerah bencana kami juga tidak bisa berjalan-jalan seenaknya. Terpaksa deh aku lebih banyak di kantor atau di rumah, mencari kesibukan dengan laptopku, eh pinjeman dari kantor sih sebenernya ^^. Duh, sayang deh gak bawa banyak buku (lagi lagi dech ^^).
Tapi aku merasa bersyukur juga dengan kepergianku kemari. Banyak pengalaman baru yang aku dapat disini. Bertemu dan bergaul dengan orang-orang baru. Saat ini selain orang Meulaboh, di sini juga banyak expatriat (bule, kalo orang inggris bilang), banyak juga orang dari berbagai tempat di Indonesia. Kadang juga bahasa menjadi hambatan di sini. Sering ketika menemani bosku yang orang rusia ke lapangan, aku harus menjadi penterjemah. Kadang juga lucunya terjemahannya tidak sekali tapi dua kali. Pernah kejadian kami pergi ke lapangan, kami harus bicara dengan orang setempat yang empunya rumah. Eh rupanya beliau tidak lancar bahasa Indonesia. Alhasil setiap bosku bicara, aku terjemahkan ke bahasa Indonesia, kemudian oleh driver kami diterjemahkan lagi ke bahasa Aceh. Menarik, dan sedikit lucu. Mana kadang aku juga terjemahan bahasa Inggrisnya ngawur, hahaaha. Kalau mendengar sih lumayan lancar, giliran aku harus terjemahkan balik ke bahasa Inggris pasti gelagapan deh. Hehe.
Aku merasa bersyukur juga karena dengan begini aku mendapatkan suasana baru. Meskipun kalo dari sisi pekerjaan cukup melelahkan. Tidak berat, tapi karena kami masih di daerah berstatus emergency, jam kerjanya lumayan banyak. Kami harus standby di kantor dari jam 8 pagi s.d. jam 7 malam dari hari Senin s.d. Sabtu. Tapi kalo dipikir juga ketika di Bandung justru lebih melelahkan. Memang jam kerja waktu di Bandung hanya jam 8 sampai jam 5, tapi bila dihitung juga perjalanan wah, dari jam 6 pagi sampai jam 8 malam. Lebih capek deh.
Senangnya juga banyak peralatan baru yang aku temui disini. Bahkan ada alat-alat IT yang sebelumnya aku belum pernah lihat sama sekali ^^. Jadi kadang aku merasa gaptek juga disini, hehe. Di sini radio menjadi sarana komunikasi utama selain selular. Akupun jadi harus belajar komunikasi radio. Keren juga, karena tiap kami disini mempunyai callsign sendiri. Kayak di film-film hollywood deh. Bravo Foxtrot one to Bravo Charlie Three dst ..., keren, meski kadang sebel karena musti nginget callsign orang ^^.
Ada pengalaman menarik juga dengan salah seorang security di sini. Beliau cukup ramah, banyak bercerita. Dan aku rasa sangat terbuka. Seringkali sih kami di IT direcoki oleh beliau, bertanya gimana pake komputer, apa ini, apa itu. Yang menarik dari beliau menurutku beliau, meskipun sudah cukup berumur, tapi tidak segan untuk bertanya ke kami-kami ini yang jauh lebih muda dari beliau. Keterbukaannya untuk menyerap hal baru seperti anak kecil lah yang menarik. Kadang kita yang sudah merasa 'tua' sering merasa gengsi bila harus bertemu hal baru. Seperti diriku juga, baru kepala dua, tapi udah sering gengsi bila harus bertanya ini itu tentang teknologi baru. Ya, seperti jadi diingatkan juga bahwa kita senantiasa harus siap belajar dan mengakui keterbatasan kita. Keterbatasan adalah hal yang wajar bagi kita manusia, jadi kenapa malu ^^. Kata Steve Jobs juga: "stay hunger, stay foolish". Kurasa kata-katanya cocok untuk konteks ceritaku ini.
Begitulah kisahku hari ini, eh minggu ini. We'll see again lah.
Dari kantor yang mulai sepi,
Meulaboh, 2 Juli 2005
Terimakasih Tuhan, telah membawaku ke pengalaman baru dan menyapaku ... .
Sepertinya aku mulai merasa agak bosan juga disini. Karena praktis disini kami tidak bisa kemana-mana, lagipula karena masih dianggap daerah bencana kami juga tidak bisa berjalan-jalan seenaknya. Terpaksa deh aku lebih banyak di kantor atau di rumah, mencari kesibukan dengan laptopku, eh pinjeman dari kantor sih sebenernya ^^. Duh, sayang deh gak bawa banyak buku (lagi lagi dech ^^).
Tapi aku merasa bersyukur juga dengan kepergianku kemari. Banyak pengalaman baru yang aku dapat disini. Bertemu dan bergaul dengan orang-orang baru. Saat ini selain orang Meulaboh, di sini juga banyak expatriat (bule, kalo orang inggris bilang), banyak juga orang dari berbagai tempat di Indonesia. Kadang juga bahasa menjadi hambatan di sini. Sering ketika menemani bosku yang orang rusia ke lapangan, aku harus menjadi penterjemah. Kadang juga lucunya terjemahannya tidak sekali tapi dua kali. Pernah kejadian kami pergi ke lapangan, kami harus bicara dengan orang setempat yang empunya rumah. Eh rupanya beliau tidak lancar bahasa Indonesia. Alhasil setiap bosku bicara, aku terjemahkan ke bahasa Indonesia, kemudian oleh driver kami diterjemahkan lagi ke bahasa Aceh. Menarik, dan sedikit lucu. Mana kadang aku juga terjemahan bahasa Inggrisnya ngawur, hahaaha. Kalau mendengar sih lumayan lancar, giliran aku harus terjemahkan balik ke bahasa Inggris pasti gelagapan deh. Hehe.
Aku merasa bersyukur juga karena dengan begini aku mendapatkan suasana baru. Meskipun kalo dari sisi pekerjaan cukup melelahkan. Tidak berat, tapi karena kami masih di daerah berstatus emergency, jam kerjanya lumayan banyak. Kami harus standby di kantor dari jam 8 pagi s.d. jam 7 malam dari hari Senin s.d. Sabtu. Tapi kalo dipikir juga ketika di Bandung justru lebih melelahkan. Memang jam kerja waktu di Bandung hanya jam 8 sampai jam 5, tapi bila dihitung juga perjalanan wah, dari jam 6 pagi sampai jam 8 malam. Lebih capek deh.
Senangnya juga banyak peralatan baru yang aku temui disini. Bahkan ada alat-alat IT yang sebelumnya aku belum pernah lihat sama sekali ^^. Jadi kadang aku merasa gaptek juga disini, hehe. Di sini radio menjadi sarana komunikasi utama selain selular. Akupun jadi harus belajar komunikasi radio. Keren juga, karena tiap kami disini mempunyai callsign sendiri. Kayak di film-film hollywood deh. Bravo Foxtrot one to Bravo Charlie Three dst ..., keren, meski kadang sebel karena musti nginget callsign orang ^^.
Ada pengalaman menarik juga dengan salah seorang security di sini. Beliau cukup ramah, banyak bercerita. Dan aku rasa sangat terbuka. Seringkali sih kami di IT direcoki oleh beliau, bertanya gimana pake komputer, apa ini, apa itu. Yang menarik dari beliau menurutku beliau, meskipun sudah cukup berumur, tapi tidak segan untuk bertanya ke kami-kami ini yang jauh lebih muda dari beliau. Keterbukaannya untuk menyerap hal baru seperti anak kecil lah yang menarik. Kadang kita yang sudah merasa 'tua' sering merasa gengsi bila harus bertemu hal baru. Seperti diriku juga, baru kepala dua, tapi udah sering gengsi bila harus bertanya ini itu tentang teknologi baru. Ya, seperti jadi diingatkan juga bahwa kita senantiasa harus siap belajar dan mengakui keterbatasan kita. Keterbatasan adalah hal yang wajar bagi kita manusia, jadi kenapa malu ^^. Kata Steve Jobs juga: "stay hunger, stay foolish". Kurasa kata-katanya cocok untuk konteks ceritaku ini.
Begitulah kisahku hari ini, eh minggu ini. We'll see again lah.
Dari kantor yang mulai sepi,
Meulaboh, 2 Juli 2005
Terimakasih Tuhan, telah membawaku ke pengalaman baru dan menyapaku ... .
Subscribe to:
Posts (Atom)