Hari minggu ini, Liverpool akan bermain tandang menghadapi Aston Villa. Liverpool saat ini menduduki peringkat 6 klasemen sementara dengan 26 poin dari 15 pertandingan, dan Aston Villa di peringkat 9 dengan 19 point, juga dari 15 pertandingan. Kedua tim sama-sama mencatatkan 18 gol, namun Liverpool memiliki catatan pertahanan yang lebih baik, yaitu baru kebobolan 13 gol, dibandingkan Aston Villa yang telah kebobolan 19 gol dari 15 pertandingan. Liverpool sejauh ini merupakan tim yang paling sedikit kebobolan di Liga Inggris. Namun dengan cederanya Lucas Leiva patut kita nantikan apakah Liverpool sanggup untuk mempertahankan rekor ini. Berikut akan coba kita lihat satu per satu hal-hal yang mungkin menjadi kunci dalam pertandingan nanti.
Faktor hilangnya Lucas Leiva
Lucas Leiva saat ini sudah menjadi pemain penting di Liverpool, cederanya Lucas Leiva menjadi kehilangan yang besar bagi Liverpool. Peran Lucas dalam menjadi tameng di depan pertahanan dan juga dalam menjaga stabilitas lini tengah sulit tergantikan. Peranan Lucas dalam pertandingan melawan Fulham coba digantikan oleh Jay Spearing, yang ternyata sanggup mengemban tugas tersebut. Sayang dalam pertandingan tersebut Spearing mendapatkan kartu merah yang mengakibatkan Liverpool akan kehilangan Spearing dalam tiga pertandingan, yaitu saat melawan QPR kemarin, Aston Villa minggu ini dan minggu berikutnya saat melawan Wigan.
Tanpa Lucas dan Jay, Liverpool boleh dibilang tidak memiliki lagi pemain yang pas untuk posisi ini. King Kenny kemudian memilih Adam turun sedikit ke belakang untuk sedikit banyak mengambil peran Lucas / Spearing. Dan ternyata Adam cukup mampu untuk tugas ini. Apakah Adam mampu menjalankan tugas yang sama nanti saat menghadapi Villa? Tentunya masih perlu dinantikan, mengingat Villa boleh dibilang masih satu kelas di atas QPR. Hanya sepertinya Liverpool memang tidak memiliki pilihan lain kali ini. Adam tentu menjadi pilihan pertama, dengan didampingi oleh Henderson di tengah, dalam formasi semacam 4-4-2 dengan Kuyt dan Downing di sayap kiri kanan.
Tiadanya Lucas Leiva tentu juga akan dimanfaatkan oleh McLeish, dengan
tiadanya ball winner dari Liverpool, kemungkinan besar akan lebih baik
bila Villa mencoba memainkan lini tengah dengan pola 4-2-3-1, pola yang
cukup sering dimainkan Villa musim ini. Tujuannya tentu untuk tidak
memberikan ruang untuk pergerakan pemain tengah Liverpool yang cukup
berbahaya.
Bola atas atau bola bawah?
Kedua tim boleh dibilang memiliki keunggulan dalam penguasaan bola atas, dengan didukung oleh bek dan striker yang terbilang cukup kuat dalam duel bola atas. Pertama kita lihat dari sisi Villa, meskipun Villa cukup baik dalam duel di udara, namun menghadapi duo Agger-Skrtel, mungkin McLeish perlu berpikir ulang. Pilihan formasi 4-2-3-1 juga akan lebih menguntungkan tentunya bila Villa memilih memainkan penguasaan bola. Terlebih dengan tiadanya ball winner dari Liverpool, saya rasa ini merupakan pilihan terbaik untuk Villa.
Bagaimana dengan King Kenny? Liverpool di bawah King Kenny coba untuk kembali ke permainan pass and move yang dulu menjadi salah satu ciri khas Liverpool. Kali inipun rasanya lebih masuk akal bila Liverpool mencoba untuk memainkan bola dari kaki ke kaki. Terlebih dengan dukungan pemain tengah yang sangat fluid, tentunya pilihan ini akan sangat menarik.
Pertempuran Lini Tengah
Lini tengah kali ini akan menjadi kunci permainan. Villa bermain di kandang tentu akan cukup percaya diri untuk mencoba menguasai lini tengah, terlebih bila mereka memainkan pola 4-2-3-1 seperti dalam formasi ilustrasi gambar. Pola 4-2-3-1 terutama oleh Aston Villa, biasanya cukup statis, sehingga King Kenny dengan Liverpoolnya-lah yang harus mengambil inisiatif.
Dengan pilihan pola dasar 4-4-2 / 4-4-1-1 yang fluid, di mana Johnson diharapkan akan menjadi tokoh sentral untuk menjadi pemain ganjil untuk coba meng-overload atau minimal mengimbangi lini tengah Villa saat Liverpool menguasai bola. Adam dalam plot ini, akan mencoba mengisi posisi regista untuk membagi bola ke daerah pertahanan Aston Villa. Saat menguasai bola formasi Liverpool akan menjadi seperti 3-5-2 atau 3-4-1-2 dengan banyak pergerakan di tengah.
Pergerakan lincah Suarez juga akan sangat penting. Bersama Kuyt, maka saat kehilangan bola Suarez harus mampu menutup lobang di sektor kanan Liverpool, hingga formasi menjadi lebih mirip 4-1-4-1 saat kehilangan bola.
Dengan pergerakan seperti ini, stamina Johnson, Kuyt, dan Suarez tentunya akan sangat terkuras, dan di bangku cadangan harus disiapkan Kelly, Bellamy dan Rodriguez untuk pengganti ketiganya saat diperlukan.
Kebiasaan Aston Villa untuk bertahan ke belakang juga akan menguntungkan Liverpool bila Liverpool mampu mengambil inisiatif serangan.
Sayap
Downing di sayap kiri akan berperan untuk bermain di lebar lapangan bila lapangan tengah terlalu sesak oleh pemain. Dengan umpan ke tengah ke Andy Carroll, bila ini dilakukan maka akan memaksa Villa untuk semakin mundur ke belakang, yang tentunya akan menguntungkan Adam untuk mengatur serangan dari posisi regista.
Dari sisi Aston Villa, Agbonlahor harus berusaha mengambil celah yang ditinggalkan oleh Johnson, meskipun ini juga berarti beresiko membiarkan Adam mengatur serangan. Namun bila berhasil maka kurang lebih akan memberikan efek yang sama seperti Downing-Carroll, dimana akan memaksa lini pertahanan Liverpool terutama, Johnson untuk mundur ke belakang.
Kesimpulan
Aston Villa akan mencoba untuk tetap kompak di belakang dengan mengandalkan serangan cepat melalui Agbonlahor, atau melalui build up play pelan ke depan.
Liverpool harus mengambil inisiatif serangan dengan memanfaatkan fluiditas pemainnya, terutama di lini tengah untuk memberikan ruang gerak kepada Adam.
Bagaimanapun ini akan menjadi petandingan yang rapat, perkiraan skor akhir: 0-1 untuk Liverpool.
Tuesday, December 13, 2011
Monday, December 12, 2011
Santiago Bernabeu, Nov 10th 2011, Pertempuran 30 Menit
Selamat untuk Barca dan Pep, saat ini memang Barca masih merupakan a
team to beat. Dan setelah sekian tahun teka-teki bernama Barca itu masih
belum bisa dipecahkan.
Kesimpulanku kalau mau mengalahkan Barca, memang harus jadi banci dan siap-siap diolok-olok para pecinta "attacking football" di dunia ini. Hanya saja kadang mereka lupa, cara bermain bola itu tidak hanya satu. Dan melayani permainan possession football barca dengan permainan menyerang sama saja bunuh diri. Untuk urusan posession football saat ini memang Barca yang terbaik.
Dan terus terang saja, saat ini Real Madrid tidak punya kapasitas untuk melayani Barca. Hanya tim-tim dengan disiplin dan stamina yang baik yang bisa mengalahkan Barca saat ini, itu kenapa Liverpool dan Inter bisa menang lawan Barca. Keunggulan Madrid yaitu di serangan, sayangnya Barca masih setingkat lebih baik.
Sedikit mengulas permainan kemarin:
Teka-teki bagaimana Mou akan memainkan permainannya terjawab sudah, dengan pressuring high up the field. Ini memang logis, dan ini salah satu pilihan untuk bisa menekan Barca dan merusak ritme mereka. Hanya yang tidak aku mengerti adalah pilihan memainkan Ozil di tengah dalam pola 4-2-3-1. Pola 4-2-3-1 memang salah satu pola ideal untuk overloading lini tengah, ini mungkin maksud Mou. Di sisi lain hampir separuh musim ini Madrid sudah terbiasa dengan pola ini. Jujur saja Madrid & Mou musim ini agak terlalu monoton. Dengan pertimbangan "kebiasaan" ini mungkin kenapa Ozil dipertahankan dalam Starting 11. Tapi pilihan top 4 ini menjadi potongan yang salah dengan ide "menekan tinggi ke depan" tadi. Mungkin lebih baik bila Ozil ditarik dan diganti dengan Khedira, dan pola 4-2-3-1 diubah menjadi 4-3-3 seperti saat Madrid menghadapi Valencia, dengan Alonso di posisi regista di belakang dua tameng Lass dan Khedira. Top 3 Madrid tentu tetap: Ronaldo, Benzema, dan Di Maria. Pilihan Benzema di atas Higuain bisa dimengerti mengingat work rate Benzema dan kemampuan untuk pressure nya lebih baik di atas Higuain. Lain cerita bila Madrid memilih parkir bis, maka Higuain lebih cocok. tentu saja ini hipotetikal dan tidak ada jaminan bahwa pilihan formasi 4-3-3 dengan tengah Alonso, Lass, Khedira lebih baik dibanding 4-2-3-1 dengan Ozil.
Masalah terbesar dengan "menekan tinggi ke atas", adalah stamina, dan ini terlihat dalam permainan kemarin. 30 menit pertama Real sukses menekan, tapi ini dibayar mahal dengan stamina mereka yang terkuras. Apalagi menekan Barca jauh ke atas, yang memiliki passing work terbaik saat ini, tentu jauh lebih melelahkan. Harapan Madrid dan Mou tentu meraih minimal 2 gol dalam 30 menit pertama ini. Di sini terlihat kepercayaan diri yang sangat besar dari Mou dan Madrid, karena boleh dibilang ini pertaruhan "all in", bila gagal maka habis sudah. Bila ini terjadi, Madrid tinggal mundur dan memainkan counter attacking football seperti biasa. Hanya sayang ini tidak terjadi. Dan saat mereka "hanya" mampu unggul 1-0 dalam 30 menit pertama, maka kebobolan hanya masalah waktu.
Gambling Mou dan Wenger dengan Arsenalnya dulu dengan menekan Barca ke depan memang salah satu pilihan logis, tapi mungkin bukan jawaban terbaik untuk menghadapi Barca.
Kunci dari permainan kemarin adalah 30 menit pertama, karena inilah titik terpenting dengan pilihan yang diambil Mou dan Madrid. They won the initial 30th minute battle, but not enough. Just not enough.
Salah satu masalah lain dengan pendekatan Madrid kemarin, pilihan untuk pressure 30 menit pertama, adalah transisi ke bertahan. Saat ini tidak ada tim yang sanggup untuk pressure sepanjang 90 menit, kecuali mungkin Korsel di PD 2002. Dan transisi ini mutlak harus dilakukan oleh Madrid, apalagi mengingat hanya beberapa hari sebelumnya mereka melakukan tandang ke markas Ajax, yang tentu faktor kelelahan harus dipertimbangkan. Transisi ke bertahan ini harus dilakukan supaya bisa tetap berlari hingga ke menit 90. Kebobolan di menit 33 itu sangat mungkin karena faktor transisi ini, saat tim bermain menekan jauh ke depan,maka transisi ke bertahan bukanlah hal yang mudah, bahkan untuk tim sekelas Madrid.
Dari pertandingan tersebut saat ini memang harus diakui bahwa kombinasi possession football Barca dengan kegeniusan seorang Lionel Messi memanglah menjadikan Barca+Messi adalah tim terbaik saat ini. A team to beat ..
Jujur perseteruan Madrid - Barca ini sudah tidak sehat buatku, karena membuatku sering terjaga memikirkan bagaimana cara mengalahkan Barca, wkwkwk. Ya, jujur saja aku bosan dengan permainan Barca ini. Karena gara-gara Barca, semua orang mendewakan possesion footbal atau tiki-taka atau apapun istilahnya .. Padahal diriku sendiri sedari dulu adalah seorang yang menyukai permainan possession football, bahkan bila main Winning Eleven, FIFA atau game sebangsanya. Banyak orang bilang ketika itu kalau melawanku suka bilang permainanku membosankan, karena hanya oper oper ke sana kemari. Eh sekarang sepertinya orang-orang itu pula yang mendewa-dewakan possession footbal itu. Jadi sekarang aku ingin melihat runtuhnya possession football itu .. Possession football menurutku memang merupakan the ultimate way to play football, dan jujur aku tidak tahu cara mengatasinya tanpa memainkan 10 bek di belakang garis. Tapi dengan bertahan seperti itu paling-paling hanya akan draw bukan menang. So?
Salam
Kesimpulanku kalau mau mengalahkan Barca, memang harus jadi banci dan siap-siap diolok-olok para pecinta "attacking football" di dunia ini. Hanya saja kadang mereka lupa, cara bermain bola itu tidak hanya satu. Dan melayani permainan possession football barca dengan permainan menyerang sama saja bunuh diri. Untuk urusan posession football saat ini memang Barca yang terbaik.
Dan terus terang saja, saat ini Real Madrid tidak punya kapasitas untuk melayani Barca. Hanya tim-tim dengan disiplin dan stamina yang baik yang bisa mengalahkan Barca saat ini, itu kenapa Liverpool dan Inter bisa menang lawan Barca. Keunggulan Madrid yaitu di serangan, sayangnya Barca masih setingkat lebih baik.
Sedikit mengulas permainan kemarin:
Teka-teki bagaimana Mou akan memainkan permainannya terjawab sudah, dengan pressuring high up the field. Ini memang logis, dan ini salah satu pilihan untuk bisa menekan Barca dan merusak ritme mereka. Hanya yang tidak aku mengerti adalah pilihan memainkan Ozil di tengah dalam pola 4-2-3-1. Pola 4-2-3-1 memang salah satu pola ideal untuk overloading lini tengah, ini mungkin maksud Mou. Di sisi lain hampir separuh musim ini Madrid sudah terbiasa dengan pola ini. Jujur saja Madrid & Mou musim ini agak terlalu monoton. Dengan pertimbangan "kebiasaan" ini mungkin kenapa Ozil dipertahankan dalam Starting 11. Tapi pilihan top 4 ini menjadi potongan yang salah dengan ide "menekan tinggi ke depan" tadi. Mungkin lebih baik bila Ozil ditarik dan diganti dengan Khedira, dan pola 4-2-3-1 diubah menjadi 4-3-3 seperti saat Madrid menghadapi Valencia, dengan Alonso di posisi regista di belakang dua tameng Lass dan Khedira. Top 3 Madrid tentu tetap: Ronaldo, Benzema, dan Di Maria. Pilihan Benzema di atas Higuain bisa dimengerti mengingat work rate Benzema dan kemampuan untuk pressure nya lebih baik di atas Higuain. Lain cerita bila Madrid memilih parkir bis, maka Higuain lebih cocok. tentu saja ini hipotetikal dan tidak ada jaminan bahwa pilihan formasi 4-3-3 dengan tengah Alonso, Lass, Khedira lebih baik dibanding 4-2-3-1 dengan Ozil.
Masalah terbesar dengan "menekan tinggi ke atas", adalah stamina, dan ini terlihat dalam permainan kemarin. 30 menit pertama Real sukses menekan, tapi ini dibayar mahal dengan stamina mereka yang terkuras. Apalagi menekan Barca jauh ke atas, yang memiliki passing work terbaik saat ini, tentu jauh lebih melelahkan. Harapan Madrid dan Mou tentu meraih minimal 2 gol dalam 30 menit pertama ini. Di sini terlihat kepercayaan diri yang sangat besar dari Mou dan Madrid, karena boleh dibilang ini pertaruhan "all in", bila gagal maka habis sudah. Bila ini terjadi, Madrid tinggal mundur dan memainkan counter attacking football seperti biasa. Hanya sayang ini tidak terjadi. Dan saat mereka "hanya" mampu unggul 1-0 dalam 30 menit pertama, maka kebobolan hanya masalah waktu.
Gambling Mou dan Wenger dengan Arsenalnya dulu dengan menekan Barca ke depan memang salah satu pilihan logis, tapi mungkin bukan jawaban terbaik untuk menghadapi Barca.
Kunci dari permainan kemarin adalah 30 menit pertama, karena inilah titik terpenting dengan pilihan yang diambil Mou dan Madrid. They won the initial 30th minute battle, but not enough. Just not enough.
Salah satu masalah lain dengan pendekatan Madrid kemarin, pilihan untuk pressure 30 menit pertama, adalah transisi ke bertahan. Saat ini tidak ada tim yang sanggup untuk pressure sepanjang 90 menit, kecuali mungkin Korsel di PD 2002. Dan transisi ini mutlak harus dilakukan oleh Madrid, apalagi mengingat hanya beberapa hari sebelumnya mereka melakukan tandang ke markas Ajax, yang tentu faktor kelelahan harus dipertimbangkan. Transisi ke bertahan ini harus dilakukan supaya bisa tetap berlari hingga ke menit 90. Kebobolan di menit 33 itu sangat mungkin karena faktor transisi ini, saat tim bermain menekan jauh ke depan,maka transisi ke bertahan bukanlah hal yang mudah, bahkan untuk tim sekelas Madrid.
Dari pertandingan tersebut saat ini memang harus diakui bahwa kombinasi possession football Barca dengan kegeniusan seorang Lionel Messi memanglah menjadikan Barca+Messi adalah tim terbaik saat ini. A team to beat ..
Jujur perseteruan Madrid - Barca ini sudah tidak sehat buatku, karena membuatku sering terjaga memikirkan bagaimana cara mengalahkan Barca, wkwkwk. Ya, jujur saja aku bosan dengan permainan Barca ini. Karena gara-gara Barca, semua orang mendewakan possesion footbal atau tiki-taka atau apapun istilahnya .. Padahal diriku sendiri sedari dulu adalah seorang yang menyukai permainan possession football, bahkan bila main Winning Eleven, FIFA atau game sebangsanya. Banyak orang bilang ketika itu kalau melawanku suka bilang permainanku membosankan, karena hanya oper oper ke sana kemari. Eh sekarang sepertinya orang-orang itu pula yang mendewa-dewakan possession footbal itu. Jadi sekarang aku ingin melihat runtuhnya possession football itu .. Possession football menurutku memang merupakan the ultimate way to play football, dan jujur aku tidak tahu cara mengatasinya tanpa memainkan 10 bek di belakang garis. Tapi dengan bertahan seperti itu paling-paling hanya akan draw bukan menang. So?
Salam
Tuesday, August 23, 2011
Rencana Penjualan PSG HP & Masa Depan PC
Saat sedang iseng beselancar di dunia maya, saya menemukan satu artikel yang menarik perhatian saya, yaitu mengenai rencana penutupan atau penjualan divisi PSG HP. Divisi PSG, kependekan dari Personal System Group, adalah divisi yang membawahi PC (personal computer), baik desktop maupun laptop, dan juga tablet dll.
Di dalam artikel di situs Anandtech, HP to Discontinue webOS Hardware, Discussing the Future of webOS, memang jelas bahwa HP akan menutup divisi webOS Hardware nya karena dipandang tidak terlalu menjanjikan. Mungkin karena persaingan yang keras dari Apple dengan iPad nya, dan Google dengan Androidnya. Berita penutupan webOS ini tidak terlalu mengagetkan saya, lain halnya dengan rencana penjualan group PSG HP.
Hingga saat ini, HP masih merupakan penguasa nomor satu untuk pangsa pasar personal computer. Meskipun demikian di dalam laporan kuartal ketiga HP (HP Reports Third Quarter 2011 Results and Initiates Company Transformation), HP menyatakan bahwa pendapatannya dari sektor ini turun 3% dari tahun ke tahun. Mungkin atas dasar ini HP merasa perlu untuk memikirkan ulang posisinya di sektor PC.
Bila memang HP jadi menjual atau melepas divisi PSG-nya, maka berarti HP akan mengikuti langkah IBM ketika melepas divisi personal computernya, meskipun sejauh mana HP akan melakukan persisnya masih perlu kita nantikan.
Rencana HP ini, di samping mengagetkan karena pangsa pasarnya yang besar, yang lebih menarik adalah boleh jadi ini adalah sinyal semakin meredupnya pangsa pasar personal PC, terutama mungkin untuk desktop dengan semakin maraknya tablet dan laptop murah. Fungsi desktop sedikit demi sedikit digantikan oleh laptop yang kemampuannya semakin besar saat ini, bahkan untuk fungsi-fungsi pekerjaan di kantor, praktis hampir semua yang bisa dilakukan oleh desktop juga bisa dilakukan oleh laptop ditambah dengan mobilitasnya.
Namun apakah memang pasar personal computer akan benar-benar hilang dalam waktu dekat ini? Saya rasa tidak demikian adanya. Personal computer bagi pengguna rumahan memang saya rasa mengalami penurunan permintaan yang besar, karena di samping harganya yang hampir sama dengan laptop sekarang ini, orang juga semakin beralih ke tablet untuk keperluan personal. Memang fungsi tablet belum sepenuhnya mampu menggantikan fungsi personal computer, baik laptop maupun desktop, akan tetapi sedikit banyak berpengaruh dalam mengurangi pangsa pasar personal computer.
Bagi pengguna rumahan-pun, saya pikir personal computer tetap akan mendapatkan tempatnya meskipun mungkin tidak sebesar dulu. Desktop/laptop tetap diperlukan untuk fungsi-fungsi utama terkait pekerjaan, seperti mengetik, spreadsheet, dan juga untuk media penyimpanan. Saya sendiri menggunakan PC di rumah untuk nyaris semua kebutuhan tersebut ditambah sebagai fungsi pemusatan penyimpanan data saya, seperti foto-foto keluarga dan lain-lain.Desktop juga saya rasa tetap akan mendapatkan tempat untuk para enthusiast seperti para pecinta game PC atau untuk keperluan image editing design dan lain-lain.
Di sisi pengguna kantoran, saya yakin PC masih memiliki pangsa pasar yang besar, dan di sinilah letak kekuatan pasar PC. Dan di sini juga manufaktur besar seperti HP seharusnya memfokuskan dirinya. Perkantoran dan bisnis, dalam memilih brand PC, tentu lebih mengutamakan layanan yang reliable dan sustainable. Hal inilah yang bisa ditawarkan oleh manufaktur besar seperti HP, Dell, Lenovo dan lain-lain. Dalam bisnis, saya tentu akan memilih brand yang saya lihat terpercaya, mampu memberikan layanan servis purna jual yang memuaskan, dan sustainable. Saya tentunya tidak akan memilih brand yang kembang kempis, tahun ini ada, tahun depan entah ke mana.
HP dalam hal ini sebetulnya saya rasa memiliki pondasi yang cukup kuat di pasar Indonesia dengan jaringan layanan servisnya yang cukup baik dibanding merk-merk lain. Dan mungkin bila HP, atau vendor lain, benar-benar menggarap ceruk pasar ini secara serius saya yakin akan mampu memberikan pendapatan yang cukup stabil.
Bagaimana nanti HP memposisikan divisi PSG nya, sekali lagi, masih perlu kita nantikan.
Di dalam artikel di situs Anandtech, HP to Discontinue webOS Hardware, Discussing the Future of webOS, memang jelas bahwa HP akan menutup divisi webOS Hardware nya karena dipandang tidak terlalu menjanjikan. Mungkin karena persaingan yang keras dari Apple dengan iPad nya, dan Google dengan Androidnya. Berita penutupan webOS ini tidak terlalu mengagetkan saya, lain halnya dengan rencana penjualan group PSG HP.
Hingga saat ini, HP masih merupakan penguasa nomor satu untuk pangsa pasar personal computer. Meskipun demikian di dalam laporan kuartal ketiga HP (HP Reports Third Quarter 2011 Results and Initiates Company Transformation), HP menyatakan bahwa pendapatannya dari sektor ini turun 3% dari tahun ke tahun. Mungkin atas dasar ini HP merasa perlu untuk memikirkan ulang posisinya di sektor PC.
Bila memang HP jadi menjual atau melepas divisi PSG-nya, maka berarti HP akan mengikuti langkah IBM ketika melepas divisi personal computernya, meskipun sejauh mana HP akan melakukan persisnya masih perlu kita nantikan.
Rencana HP ini, di samping mengagetkan karena pangsa pasarnya yang besar, yang lebih menarik adalah boleh jadi ini adalah sinyal semakin meredupnya pangsa pasar personal PC, terutama mungkin untuk desktop dengan semakin maraknya tablet dan laptop murah. Fungsi desktop sedikit demi sedikit digantikan oleh laptop yang kemampuannya semakin besar saat ini, bahkan untuk fungsi-fungsi pekerjaan di kantor, praktis hampir semua yang bisa dilakukan oleh desktop juga bisa dilakukan oleh laptop ditambah dengan mobilitasnya.
Namun apakah memang pasar personal computer akan benar-benar hilang dalam waktu dekat ini? Saya rasa tidak demikian adanya. Personal computer bagi pengguna rumahan memang saya rasa mengalami penurunan permintaan yang besar, karena di samping harganya yang hampir sama dengan laptop sekarang ini, orang juga semakin beralih ke tablet untuk keperluan personal. Memang fungsi tablet belum sepenuhnya mampu menggantikan fungsi personal computer, baik laptop maupun desktop, akan tetapi sedikit banyak berpengaruh dalam mengurangi pangsa pasar personal computer.
Bagi pengguna rumahan-pun, saya pikir personal computer tetap akan mendapatkan tempatnya meskipun mungkin tidak sebesar dulu. Desktop/laptop tetap diperlukan untuk fungsi-fungsi utama terkait pekerjaan, seperti mengetik, spreadsheet, dan juga untuk media penyimpanan. Saya sendiri menggunakan PC di rumah untuk nyaris semua kebutuhan tersebut ditambah sebagai fungsi pemusatan penyimpanan data saya, seperti foto-foto keluarga dan lain-lain.Desktop juga saya rasa tetap akan mendapatkan tempat untuk para enthusiast seperti para pecinta game PC atau untuk keperluan image editing design dan lain-lain.
Di sisi pengguna kantoran, saya yakin PC masih memiliki pangsa pasar yang besar, dan di sinilah letak kekuatan pasar PC. Dan di sini juga manufaktur besar seperti HP seharusnya memfokuskan dirinya. Perkantoran dan bisnis, dalam memilih brand PC, tentu lebih mengutamakan layanan yang reliable dan sustainable. Hal inilah yang bisa ditawarkan oleh manufaktur besar seperti HP, Dell, Lenovo dan lain-lain. Dalam bisnis, saya tentu akan memilih brand yang saya lihat terpercaya, mampu memberikan layanan servis purna jual yang memuaskan, dan sustainable. Saya tentunya tidak akan memilih brand yang kembang kempis, tahun ini ada, tahun depan entah ke mana.
HP dalam hal ini sebetulnya saya rasa memiliki pondasi yang cukup kuat di pasar Indonesia dengan jaringan layanan servisnya yang cukup baik dibanding merk-merk lain. Dan mungkin bila HP, atau vendor lain, benar-benar menggarap ceruk pasar ini secara serius saya yakin akan mampu memberikan pendapatan yang cukup stabil.
Bagaimana nanti HP memposisikan divisi PSG nya, sekali lagi, masih perlu kita nantikan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
