Monday, December 19, 2011

Energetic Liverpool Steamrolled Uninspiring Villa

Liverpool mengungguli Villa 2-0 dalam pertandingan yang lebih cenderung berat sebelah. Tanpa mengurangi respek kepada Liverpool, kemenangan Liverpool kali mungkin lebih dikarenakan permainan Aston Villa tampil monoton dan nyaris tanpa dinamika dan kurangnya ide dari lini tengah mereka.

Pilihan pemain dan formasi

Kenny Dalglish membuat kejutan dengan memberikan kesempatan untuk Jonjo Shelvey tampil semenjak menit pertama bersama Bellamy yang juga mendapatkan kepercayaan dari KD. Liverpool mengawali permainan dengan formasi tradisional 4-4-1-1 dengan Shelvey di belakang Suarez.

Bellamy mengisi posisi sayap kiri dan saat membawa bola sering maju dan memotong ke tengah, sekaligus memberikan ruang gerak bagi Enrique untuk maju dari belakang di sektor kiri Liverpool. Terbukti permainan Bellamy cukup memberikan dinamika di sektor ini yang sangat dibutuhkan oleh Liverpool. Downing diplot untuk memanfaatkan lebar lapangan di sayap kanan dengan didukung Glen Johnson dari belakangnya.

Adam dan Henderson mengisi posisi "pivot" di lini tengah Liverpool dengan Henderson sedikit lebih di depan Adam terutama saat Liverpool menguasai bola.

Lini belakang Liverpool tetap ditempati oleh empat (4) bek pilihan pertama Liverpool, Enrique - Agger - Skrtel - Johnson. Pilihan yang rasional mengingat Liverpool hingga saat ini merupakan tim yang paling sedikit kebobolan di Liga Premier.

McLeish tampil dengan bentuk mendekati formasi standar Villa, 4-2-3-1. Dengan cederanya Bent dan akumulasi kartu yang diterima oleh Agbonlahor, Heskey dipercaya untuk mengisi posisi striker tunggal yang biasa diisi oleh Bent. N'zogbia diplot mengisi sayap kiri, Albrighton di kanan, dan Delfouneso sedikit di belakang Heskey.

Babak Pertama

Kelemahan Aston Villa dalam bertahan dari sepak pojok segera diekspos oleh Liverpool, dalam 15 menit pertama Liverpool berhasil mencuri dua gol hasil dari sepak pojok. Dari kedua sepak pojok yang terjadi pertahan Aston Villa tampak tidak punya ide bagaimana untuk bertahan saat sepak pojok, dan ini sukses dimanfaatkan oleh Liverpool, pertama oleh Bellamy dan kedua oleh Skrtel.

Lemahnya Aston Villa dalam sepak pojok berlanjut dalam hal serangan. Sepanjang awal babak pertama Aston Villa nyaris bermain monoton nyaris tanpa kreativitas. Baru menjelang babak pertama selesai, Aston Villa mampu membuat Liverpool sedikit bertahan dan sedikit berantakan dengan tekanan yang diberikan oleh Aston Villa. Namun Liverpool mampu bertahan dengan baik bahkan mampu memberikan serangan balasan yang cukup cepat. Liverpool yang terbawa dalam arus permainan cepat nampak sedikti mengkhawatirkan, namun tidak ada peluang berarti muncul dari Aston Villa.

Babak Kedua

Tidak ada perubahan mendasar dari kedua belah pihak, justru Kenny Dalglish mengambil inisiatif dengan mendorong kedua sayapnya, Bellamy dan Downing, sedikit ke depan yang membuat formasi Liverpool nampak mendekati bentuk 4-2-3-1. Nampaknya langkah ini diambil mengantisipasi kemungkinan Aston Villa mencoba mendorong pemain lebih ke depan. Entah karena Liverpool sukses mengambil kendali permainan di awal babak kedua atau memang tidak adanya instruksi berarti dari McLeish, tidak kelihatan ada perubahan berarti dari Aston Villa.

Liverpool justru berhasil menekan Aston Villa dan mengambil inisiatif serangan. Usaha Liverpool nyaris membuahkan hasil beberapa kali dari build-up play yang cantik, terutama dari sektor kiri Liverpool oleh Bellamy. Dalglish dan Liverpool boleh mendapat acungan jempol dengan inisiatif yang diambilnya. Dua kali usaha Liverpool kembali membentur tiang sehingga menambah rekor kena tiang, yang berarti menjadi 17 kali sepanjang musim ini.

Langkah McLeish kemudian jujur sedikit membingungkan, di tengah situasi lapangan tengahnya yang didominasi oleh Liverpool, McLeish memilih mengganti Heskey dengan Weimann yang juga merupakan pemain depan, dan mendorong Delfouneso lebih ke depan dalam formasi semakin mendekati bentuk 4-4-2. Ini membuat Liverpool justru menjadi lebih leluasa di tengah dengan surplus satu pemain tengah. Heskey memang sedikit banyak tidak memberikan kontribusi berarti, namun ini terjadi justru lebih kepada kurangnya penetrasi dari sektor tengah Aston Villa. Bila memang McLeish menginginkan permainan langsung dengan pola 4-4-2 maka bukankah lebih baik Heskey tetap bermain untuk menjadi target man dengan umpan lambung dari kedua sisi?

Hingga akhir babak kedua tidak ada perubahan berarti dari Villa, dan kembali Dalglish mengambil inisiatif mengganti Shelvey dengan Carragher dalam usahanya untuk mempertahankan keunggulan. Langkah ini sebetulnya tidak terlalu krusial mengingat Villa tidak pernah berhasil membongkar dominasi lini tengah Liverpool. Namun mungkin KD berpikir lebih baik berjaga-jaga daripada kebobolan,  di samping mungkin memberikan jam terbang untuk Carragher. KD kembali berinisiatif dengan mengganti man of the match kali ini, Bellamy, dengan Dirk Kuyt, membuat formasi akhir Liverpool mendekati bentuk 5-3-2 dengan Kuyt beroperasi dari sayap kiri.

Kesimpulan

Tidak jelasnya pola permainan Aston Villa, kelemahan sepak pojok, dan kurangnya inisiatif di lini tengah membuat Villa pantas kalah kali ini.

Liverpool tampil konsisten, tidak terlalu istimewa, tapi memiliki cukup dinamika dan inisiatif sehingga mampu mendominasi permainan. Bahkan Liverpool kurang beruntung tidak berhasil menambah golnya.

Catatan positif untuk lini tengah Liverpool terutama Bellamy, dan juga Downing. Adam dan Henderson tampil cukup baik. Adam nampak semakin meyakinkan di posisi gelandang tengah yang ditinggalkan oleh cederanya Lucas dan Gerrard. Catatan positif dari Shelvey yang meskipun tidak terlalu menonjol namun sedikit banyak memperlihatkan kontribusi positif.



Tuesday, December 13, 2011

Preview Aston Villa vs Liverpool @Villa Park (18 Des 2011)

Hari minggu ini, Liverpool akan bermain tandang menghadapi Aston Villa. Liverpool saat ini menduduki peringkat 6 klasemen sementara dengan 26 poin dari 15 pertandingan, dan Aston Villa di peringkat 9 dengan 19 point, juga dari 15 pertandingan. Kedua tim sama-sama mencatatkan 18 gol, namun Liverpool memiliki catatan pertahanan yang lebih baik, yaitu baru kebobolan 13 gol, dibandingkan Aston Villa yang telah kebobolan 19 gol dari 15 pertandingan. Liverpool sejauh ini merupakan tim yang paling sedikit kebobolan di Liga Inggris. Namun dengan cederanya Lucas Leiva patut kita nantikan apakah Liverpool sanggup untuk mempertahankan rekor ini. Berikut akan coba kita lihat satu per satu hal-hal yang mungkin menjadi kunci dalam pertandingan nanti.

Faktor hilangnya Lucas Leiva

Lucas Leiva saat ini sudah menjadi pemain penting di Liverpool, cederanya Lucas Leiva menjadi kehilangan yang besar bagi Liverpool. Peran Lucas dalam menjadi tameng di depan pertahanan dan juga dalam menjaga stabilitas lini tengah sulit tergantikan. Peranan Lucas dalam pertandingan melawan Fulham coba digantikan oleh Jay Spearing, yang ternyata sanggup mengemban tugas tersebut. Sayang dalam pertandingan tersebut Spearing mendapatkan kartu merah yang mengakibatkan Liverpool akan kehilangan Spearing dalam tiga pertandingan, yaitu saat melawan QPR kemarin, Aston Villa minggu ini dan minggu berikutnya saat melawan Wigan.

Tanpa Lucas dan Jay, Liverpool boleh dibilang tidak memiliki lagi pemain yang pas untuk posisi ini. King Kenny kemudian memilih Adam turun sedikit ke belakang untuk sedikit banyak mengambil peran Lucas / Spearing. Dan ternyata Adam cukup mampu untuk tugas ini. Apakah Adam mampu menjalankan tugas yang sama nanti saat menghadapi Villa? Tentunya masih perlu dinantikan, mengingat Villa boleh dibilang masih satu kelas di atas QPR. Hanya sepertinya Liverpool memang tidak memiliki pilihan lain kali ini. Adam tentu menjadi pilihan pertama, dengan didampingi oleh  Henderson di tengah, dalam formasi semacam 4-4-2 dengan Kuyt dan Downing di sayap kiri kanan.

 Tiadanya Lucas Leiva tentu juga akan dimanfaatkan oleh McLeish, dengan tiadanya ball winner dari Liverpool, kemungkinan besar akan lebih baik bila Villa mencoba memainkan lini tengah dengan pola 4-2-3-1, pola yang cukup sering dimainkan Villa musim ini. Tujuannya tentu untuk tidak memberikan ruang untuk pergerakan pemain tengah Liverpool yang cukup berbahaya.

Bola atas atau bola bawah?

Kedua tim boleh dibilang memiliki keunggulan dalam penguasaan bola atas, dengan didukung oleh bek dan striker yang terbilang cukup kuat dalam duel bola atas. Pertama kita lihat dari sisi Villa, meskipun Villa cukup baik dalam duel di udara, namun menghadapi duo Agger-Skrtel, mungkin McLeish perlu berpikir ulang. Pilihan formasi 4-2-3-1 juga akan lebih menguntungkan tentunya bila Villa memilih memainkan penguasaan bola. Terlebih dengan tiadanya ball winner dari Liverpool, saya rasa ini merupakan pilihan terbaik untuk Villa.

Bagaimana dengan King Kenny? Liverpool di bawah King Kenny coba untuk kembali ke permainan pass and move yang dulu menjadi salah satu ciri khas Liverpool. Kali inipun rasanya lebih masuk akal bila Liverpool mencoba untuk  memainkan bola dari kaki ke kaki. Terlebih dengan dukungan pemain tengah yang sangat fluid, tentunya pilihan ini akan sangat menarik.

Pertempuran Lini Tengah

Lini tengah kali ini akan menjadi kunci permainan. Villa bermain di kandang tentu akan cukup percaya diri untuk mencoba menguasai lini tengah, terlebih bila mereka memainkan pola 4-2-3-1 seperti dalam formasi ilustrasi gambar. Pola 4-2-3-1 terutama oleh Aston Villa, biasanya cukup statis, sehingga King Kenny dengan Liverpoolnya-lah yang harus mengambil inisiatif.

Dengan pilihan pola dasar 4-4-2 / 4-4-1-1 yang fluid, di mana Johnson diharapkan akan menjadi tokoh sentral untuk menjadi pemain ganjil untuk coba meng-overload atau minimal mengimbangi lini tengah Villa saat Liverpool menguasai bola. Adam dalam plot ini, akan mencoba mengisi posisi regista untuk membagi bola ke daerah pertahanan Aston Villa. Saat menguasai bola formasi Liverpool akan menjadi seperti 3-5-2 atau 3-4-1-2 dengan banyak pergerakan di tengah.

Pergerakan lincah Suarez juga akan sangat penting. Bersama Kuyt, maka saat kehilangan bola Suarez harus mampu menutup lobang di sektor kanan Liverpool, hingga formasi menjadi lebih mirip 4-1-4-1 saat kehilangan bola.

Dengan pergerakan seperti ini, stamina Johnson, Kuyt, dan Suarez tentunya akan sangat terkuras, dan di bangku cadangan harus disiapkan Kelly, Bellamy dan Rodriguez untuk pengganti ketiganya saat diperlukan.

Kebiasaan Aston Villa untuk bertahan ke belakang juga akan menguntungkan Liverpool bila Liverpool mampu mengambil inisiatif serangan.

Sayap

Downing di sayap kiri akan berperan untuk bermain di lebar lapangan bila lapangan tengah terlalu sesak oleh pemain. Dengan umpan ke tengah ke Andy Carroll, bila ini dilakukan maka akan memaksa Villa untuk semakin mundur ke belakang, yang tentunya akan menguntungkan Adam untuk mengatur serangan dari posisi regista.

Dari sisi Aston Villa, Agbonlahor harus berusaha mengambil celah yang ditinggalkan oleh Johnson, meskipun ini juga berarti beresiko membiarkan Adam mengatur serangan. Namun bila berhasil maka kurang lebih akan memberikan efek yang sama seperti Downing-Carroll, dimana akan memaksa lini pertahanan Liverpool terutama, Johnson untuk mundur ke belakang.

Kesimpulan

Aston Villa akan mencoba untuk tetap kompak di belakang dengan mengandalkan serangan cepat melalui Agbonlahor, atau melalui build up play pelan ke depan.

Liverpool harus mengambil inisiatif serangan dengan memanfaatkan fluiditas pemainnya, terutama di lini tengah untuk memberikan ruang gerak kepada Adam.

Bagaimanapun ini akan menjadi petandingan yang rapat, perkiraan skor akhir: 0-1 untuk Liverpool.

Monday, December 12, 2011

Santiago Bernabeu, Nov 10th 2011, Pertempuran 30 Menit

Selamat untuk Barca dan Pep, saat ini memang Barca masih merupakan a team to beat. Dan setelah sekian tahun teka-teki bernama Barca itu masih belum bisa dipecahkan.

Kesimpulanku kalau mau mengalahkan Barca, memang harus jadi banci dan siap-siap diolok-olok para pecinta "attacking football" di dunia ini. Hanya saja kadang mereka lupa, cara bermain bola itu tidak hanya satu. Dan melayani permainan possession football barca dengan permainan menyerang sama saja bunuh diri. Untuk urusan posession football saat ini memang Barca yang terbaik.

Dan terus terang saja, saat ini Real Madrid tidak punya kapasitas untuk melayani Barca. Hanya tim-tim dengan disiplin dan stamina yang baik yang bisa mengalahkan Barca saat ini, itu kenapa Liverpool dan Inter bisa menang lawan Barca. Keunggulan Madrid yaitu di serangan, sayangnya Barca masih setingkat lebih baik.

Sedikit mengulas permainan kemarin:

Teka-teki bagaimana Mou akan memainkan permainannya terjawab sudah, dengan pressuring high up the field. Ini memang logis, dan ini salah satu pilihan untuk bisa menekan Barca dan merusak ritme mereka. Hanya yang tidak aku mengerti adalah pilihan memainkan Ozil di tengah dalam pola 4-2-3-1. Pola 4-2-3-1 memang salah satu pola ideal untuk overloading lini tengah, ini mungkin maksud Mou. Di sisi lain hampir separuh musim ini Madrid sudah terbiasa dengan pola ini. Jujur saja Madrid & Mou musim ini agak terlalu monoton. Dengan pertimbangan "kebiasaan" ini mungkin kenapa Ozil dipertahankan dalam Starting 11. Tapi pilihan top 4 ini menjadi potongan yang salah dengan ide "menekan tinggi ke depan" tadi. Mungkin lebih baik bila Ozil ditarik dan diganti dengan Khedira, dan pola 4-2-3-1 diubah menjadi 4-3-3 seperti saat Madrid menghadapi Valencia, dengan Alonso di posisi regista di belakang dua tameng Lass dan Khedira. Top 3 Madrid tentu tetap: Ronaldo, Benzema, dan Di Maria. Pilihan Benzema di atas Higuain bisa dimengerti mengingat work rate Benzema dan kemampuan untuk pressure nya lebih baik di atas Higuain. Lain cerita bila Madrid memilih parkir bis, maka Higuain lebih cocok. tentu saja ini hipotetikal dan tidak ada jaminan bahwa pilihan formasi 4-3-3 dengan tengah Alonso, Lass, Khedira lebih baik dibanding 4-2-3-1 dengan Ozil.

Masalah terbesar dengan "menekan tinggi ke atas", adalah stamina, dan ini terlihat dalam permainan kemarin. 30 menit pertama Real sukses menekan, tapi ini dibayar mahal dengan stamina mereka yang terkuras. Apalagi menekan Barca jauh ke atas, yang memiliki passing work terbaik saat ini, tentu jauh lebih melelahkan. Harapan Madrid dan Mou tentu meraih minimal 2 gol dalam 30 menit pertama ini. Di sini terlihat kepercayaan diri yang sangat besar dari Mou dan Madrid, karena boleh dibilang ini pertaruhan "all in", bila gagal maka habis sudah. Bila ini terjadi, Madrid tinggal mundur dan memainkan counter attacking football seperti biasa. Hanya sayang ini tidak terjadi. Dan saat mereka "hanya" mampu unggul 1-0 dalam 30 menit pertama, maka kebobolan hanya masalah waktu.

Gambling Mou dan Wenger dengan Arsenalnya dulu dengan menekan Barca ke depan memang salah satu pilihan logis, tapi mungkin bukan jawaban terbaik untuk menghadapi Barca.

Kunci dari permainan kemarin adalah 30 menit pertama, karena inilah titik terpenting dengan pilihan yang diambil Mou dan Madrid. They won the initial 30th minute battle, but not enough. Just not enough.

Salah satu masalah lain dengan pendekatan Madrid kemarin, pilihan untuk pressure 30 menit pertama, adalah transisi ke bertahan. Saat ini tidak ada tim yang sanggup untuk pressure sepanjang 90 menit, kecuali mungkin Korsel di PD 2002. Dan transisi ini mutlak harus dilakukan oleh Madrid, apalagi mengingat hanya beberapa hari sebelumnya mereka melakukan tandang ke markas Ajax, yang tentu faktor kelelahan harus dipertimbangkan. Transisi ke bertahan ini harus dilakukan supaya bisa tetap berlari hingga ke menit 90. Kebobolan di menit 33 itu sangat mungkin karena faktor transisi ini, saat tim bermain menekan jauh ke depan,maka transisi ke bertahan bukanlah hal yang mudah, bahkan untuk tim sekelas Madrid.

Dari pertandingan tersebut saat ini memang harus diakui bahwa kombinasi possession football Barca dengan kegeniusan seorang Lionel Messi memanglah menjadikan Barca+Messi adalah tim terbaik saat ini. A team to beat ..

Jujur perseteruan Madrid - Barca ini sudah tidak sehat buatku, karena membuatku sering terjaga memikirkan bagaimana cara mengalahkan Barca, wkwkwk. Ya, jujur saja aku bosan dengan permainan Barca ini. Karena gara-gara Barca, semua orang mendewakan possesion footbal atau tiki-taka atau apapun istilahnya .. Padahal diriku sendiri sedari dulu adalah seorang yang menyukai permainan possession football, bahkan bila main Winning Eleven, FIFA atau game sebangsanya. Banyak orang bilang ketika itu kalau melawanku suka bilang permainanku membosankan, karena hanya oper oper ke sana kemari. Eh sekarang sepertinya orang-orang itu pula yang mendewa-dewakan possession footbal itu. Jadi sekarang aku ingin melihat runtuhnya possession football itu .. Possession football menurutku memang merupakan the ultimate way to play football, dan jujur aku tidak tahu cara mengatasinya tanpa memainkan 10 bek di belakang garis. Tapi dengan bertahan seperti itu paling-paling hanya akan draw bukan menang. So?

Salam