Saat sedang iseng beselancar di dunia maya, saya menemukan satu artikel yang menarik perhatian saya, yaitu mengenai rencana penutupan atau penjualan divisi PSG HP. Divisi PSG, kependekan dari Personal System Group, adalah divisi yang membawahi PC (personal computer), baik desktop maupun laptop, dan juga tablet dll.
Di dalam artikel di situs Anandtech, HP to Discontinue webOS Hardware, Discussing the Future of webOS, memang jelas bahwa HP akan menutup divisi webOS Hardware nya karena dipandang tidak terlalu menjanjikan. Mungkin karena persaingan yang keras dari Apple dengan iPad nya, dan Google dengan Androidnya. Berita penutupan webOS ini tidak terlalu mengagetkan saya, lain halnya dengan rencana penjualan group PSG HP.
Hingga saat ini, HP masih merupakan penguasa nomor satu untuk pangsa pasar personal computer. Meskipun demikian di dalam laporan kuartal ketiga HP (HP Reports Third Quarter 2011 Results and Initiates Company Transformation), HP menyatakan bahwa pendapatannya dari sektor ini turun 3% dari tahun ke tahun. Mungkin atas dasar ini HP merasa perlu untuk memikirkan ulang posisinya di sektor PC.
Bila memang HP jadi menjual atau melepas divisi PSG-nya, maka berarti HP akan mengikuti langkah IBM ketika melepas divisi personal computernya, meskipun sejauh mana HP akan melakukan persisnya masih perlu kita nantikan.
Rencana HP ini, di samping mengagetkan karena pangsa pasarnya yang besar, yang lebih menarik adalah boleh jadi ini adalah sinyal semakin meredupnya pangsa pasar personal PC, terutama mungkin untuk desktop dengan semakin maraknya tablet dan laptop murah. Fungsi desktop sedikit demi sedikit digantikan oleh laptop yang kemampuannya semakin besar saat ini, bahkan untuk fungsi-fungsi pekerjaan di kantor, praktis hampir semua yang bisa dilakukan oleh desktop juga bisa dilakukan oleh laptop ditambah dengan mobilitasnya.
Namun apakah memang pasar personal computer akan benar-benar hilang dalam waktu dekat ini? Saya rasa tidak demikian adanya. Personal computer bagi pengguna rumahan memang saya rasa mengalami penurunan permintaan yang besar, karena di samping harganya yang hampir sama dengan laptop sekarang ini, orang juga semakin beralih ke tablet untuk keperluan personal. Memang fungsi tablet belum sepenuhnya mampu menggantikan fungsi personal computer, baik laptop maupun desktop, akan tetapi sedikit banyak berpengaruh dalam mengurangi pangsa pasar personal computer.
Bagi pengguna rumahan-pun, saya pikir personal computer tetap akan mendapatkan tempatnya meskipun mungkin tidak sebesar dulu. Desktop/laptop tetap diperlukan untuk fungsi-fungsi utama terkait pekerjaan, seperti mengetik, spreadsheet, dan juga untuk media penyimpanan. Saya sendiri menggunakan PC di rumah untuk nyaris semua kebutuhan tersebut ditambah sebagai fungsi pemusatan penyimpanan data saya, seperti foto-foto keluarga dan lain-lain.Desktop juga saya rasa tetap akan mendapatkan tempat untuk para enthusiast seperti para pecinta game PC atau untuk keperluan image editing design dan lain-lain.
Di sisi pengguna kantoran, saya yakin PC masih memiliki pangsa pasar yang besar, dan di sinilah letak kekuatan pasar PC. Dan di sini juga manufaktur besar seperti HP seharusnya memfokuskan dirinya. Perkantoran dan bisnis, dalam memilih brand PC, tentu lebih mengutamakan layanan yang reliable dan sustainable. Hal inilah yang bisa ditawarkan oleh manufaktur besar seperti HP, Dell, Lenovo dan lain-lain. Dalam bisnis, saya tentu akan memilih brand yang saya lihat terpercaya, mampu memberikan layanan servis purna jual yang memuaskan, dan sustainable. Saya tentunya tidak akan memilih brand yang kembang kempis, tahun ini ada, tahun depan entah ke mana.
HP dalam hal ini sebetulnya saya rasa memiliki pondasi yang cukup kuat di pasar Indonesia dengan jaringan layanan servisnya yang cukup baik dibanding merk-merk lain. Dan mungkin bila HP, atau vendor lain, benar-benar menggarap ceruk pasar ini secara serius saya yakin akan mampu memberikan pendapatan yang cukup stabil.
Bagaimana nanti HP memposisikan divisi PSG nya, sekali lagi, masih perlu kita nantikan.
Tuesday, August 23, 2011
Wednesday, July 27, 2011
Sedikit Telaah Peristiwa Norway
Norway bombing, bom bali, bom marriot, pelepasan gas maut (lupa namanya) di stasiun bawah tanah Jepang dahulu, dan lain sebagainya, bila mau kita tarik satu garis persamaannya, maka tak pelak itu adalah EKSTRIMISME.
Namanya EKSTRIMISME ini tidak pandang bulu, tidak pandang baju, tidak pandang akidah, iman, agama, ataupun pandangan hidupnya.
Bila kita lihat, si tersangka pelaku pembunuhan massal di Norway, Anders Behring Breivik ini, adalah orang yang melek teknologi, minimal adalah penggemar video game perang, yang dalam asumsiku minimal dia kenal konsol game atau komputer, yang artinya kemungkinan besar melek teknologi dan internet juga.
Ada sedikit ulasan pelaku melakukan kenekatannya karena dia suka game perang.
Pertanyaannya, bila dikatakan bahwa dia nekat melakukan tindakan kejinya itu karena dia suka game perang, apakah benar demikian? Karena pada kenyataanya ada jutaan penggemar game perang lainnya tapi yang melakukan kekejian sepeti si Breivik ini hanya segelintir. Sekedar informasi, salah satu judul game perang yang digemari, Call of Duty, telah laku jutaan kopi, belum game-game perang lainnya yang cukup banyak jumlahnya. Jadi penggemar game perang tentu jumlahnya minimal adalah jutaan hingga belasan juta orang. Dari angka-angka ini tentunya agak sulit dinyatakan bahwa penggemar game perang identik dengan mendorong penggemarnya untuk bertindak keji.
Dari salah satu berita di kompas, "Siapa Anders Breivik Si Penebar Teror", dapat dibaca bahwa tersangka, Anders Breivik, juga orang yang melek internet.
Hal ini terus terang yang menarik bagi saya. Orang melek internet, minimal dalam pandangan saya, tentunya adalah orang yang melek informasi, di dalam internet informasi apapun dapat kita ketemukan.
Ini menariknya, kenapa orang yang melek informasi, dapat bertindak seekstrim itu? Bukankah dengan melek informasi asumsinya orang tersebut seharusnya lebih terbuka dan lebih menghormati perbedaan? Hal ini mengingat sebagai netizen tentu orang tersebut terbiasa berhadapan dalam dunia yang tidak hanya multikultural tapi juga multipaham dan multi-multi lainnya.
Fenomena Norway, dan beberapa kasus lainnya, sedikit banyak memperkuat pandangan saya dahulu bahwa keterbukaan informasi, salah satunya yaitu melalui media internet, yang idealnya membuat masyarakat semakin terbuka, malah sebaliknya kadang, sebagai salah satu eksesnya, juga menjadikan orang semakin extreme.
ALASANNYA?
Di dalam keterbukaan informasi, terutama dengan adanya media internet, segala macam informasi, baik positif-negatif, kiri-kanan, akan mudah kita ketemukan. Permasalahannya hanyalah informasi seperti apa yang ingin kita cari. Bila ada pepatah orang melihat hanya melalui kacamatanya, bila orang berpandangan A, sadar tak sadar ia akan mencari dan menemukan segala macam informasi yang mendukung pandangan A nya tadi.
Hal ini pulalah yang terjadi dengan si Anders Breivik ini. Pada dasarnya Anders Breivik mungkin telah memiliki pandangan yang ekstrim kanan, dengan akses informasi yang dimilikinya, alih-alih ekstrimnya berkurang malahan menjadi semakin kuat yang kemudian berkulminasi di peristiwa Norway tersebut.
SEMUA INFORMASI ADA DI INTERNET, TINGGAL INFORMASI SEPERTI APA YANG ANDA INGIN BACA DAN TEMUKAN!
Pun demikian juga halnya dengan peristiwa-peristiwa lain seperti bom bali dan lain-lain. Bukan tidak mungkin bahwa pelaku juga adalah orang yang melek informasi. Bila anda memang berniat menjadi pembom, di internet juga banyak informasinya. Dan bakal ada banyak pandangan dan informasi penguat keyakinan anda tersebut.
Sebelum salah ditafsirkan, PERLU DIGARISBAWAHI bahwa KETERBUKAAN INFORMASI, salah satunya dengan media internet, DENGAN SEGALA EKSES NEGATIFNYA, MASIHLAH MEMILIKI BANYAK HAL POSITIF BAGI UMAT MANUSIA.
Saya pribadi percaya bahwa ini memang salah satu fase yang musti dilalui umat manusia untuk kemajuan. Hanya saat ini tidak akan saya bahas. OK, lanjut ...
YANG PERLU DIGARISBAWAHI JUGA, dalam era keterbukaan informasi seperti ini, IDENTITAS PRIBADI dan KEKUATAN PRIBADI menjadi hal yang sangat penting. Karena hal inilah yang menjadi landasan utama bagaimana PRIBADI membentuk KEDIRIANNYA.
Apakah kita akan menjadi seperti Anders Breivik yang lain ataukah kita akan menjadi PRIBADI TERBUKA yang POSITIF, semuanya hanya bisa kita temukan di dalam DIRI KITA SENDIRI, bukan di INTERNET atau di LUARAN SANA.
Sebagai sedikit penutup untuk tulisan kali ini, saya pernah membaca satu tulisan yang intinya semacam ini:
We still live in hedgehog world. We can not live too close with one another without risking getting hurt. Seperti hedgehog yang tentunya tidak bisa terlalu berdekatan satu sama lain karena durinya. Pun demikian kita manusia. Keterbukaan informasi telah memaksa kita umat manusia untuk menjadi sangat dekat satu sama lain dengan hilangnya jarang dan sekat penghalang. Hanya kadang kita mungkin lupa bahwa kita masih sangat mudah terluka, dan dengan demikian mungkin kita tak sadar pula untuk semakin mempertebal kulit dan cangkang kita supaya tidak terluka, meskipun itu berarti melukai orang lain, seperti ekstrimnya tragedi Norway.
Sedikit permenungan saja.
ps: sebelum ngelantur, aku tutup aja ceramah ini, hanya rasanya gatel untuk nulis ini karena kepikiran dan sudah utang ke teman untuk nulis ^^
ps2: tulisan ini sejatinya ditulis untuk sebuah bahasan di sebuah trit di Forum Kompas, tapi rasanya menarik juga untuk di-share di sini
Namanya EKSTRIMISME ini tidak pandang bulu, tidak pandang baju, tidak pandang akidah, iman, agama, ataupun pandangan hidupnya.
Bila kita lihat, si tersangka pelaku pembunuhan massal di Norway, Anders Behring Breivik ini, adalah orang yang melek teknologi, minimal adalah penggemar video game perang, yang dalam asumsiku minimal dia kenal konsol game atau komputer, yang artinya kemungkinan besar melek teknologi dan internet juga.
Ada sedikit ulasan pelaku melakukan kenekatannya karena dia suka game perang.
Pertanyaannya, bila dikatakan bahwa dia nekat melakukan tindakan kejinya itu karena dia suka game perang, apakah benar demikian? Karena pada kenyataanya ada jutaan penggemar game perang lainnya tapi yang melakukan kekejian sepeti si Breivik ini hanya segelintir. Sekedar informasi, salah satu judul game perang yang digemari, Call of Duty, telah laku jutaan kopi, belum game-game perang lainnya yang cukup banyak jumlahnya. Jadi penggemar game perang tentu jumlahnya minimal adalah jutaan hingga belasan juta orang. Dari angka-angka ini tentunya agak sulit dinyatakan bahwa penggemar game perang identik dengan mendorong penggemarnya untuk bertindak keji.
Dari salah satu berita di kompas, "Siapa Anders Breivik Si Penebar Teror", dapat dibaca bahwa tersangka, Anders Breivik, juga orang yang melek internet.
Hal ini terus terang yang menarik bagi saya. Orang melek internet, minimal dalam pandangan saya, tentunya adalah orang yang melek informasi, di dalam internet informasi apapun dapat kita ketemukan.
Ini menariknya, kenapa orang yang melek informasi, dapat bertindak seekstrim itu? Bukankah dengan melek informasi asumsinya orang tersebut seharusnya lebih terbuka dan lebih menghormati perbedaan? Hal ini mengingat sebagai netizen tentu orang tersebut terbiasa berhadapan dalam dunia yang tidak hanya multikultural tapi juga multipaham dan multi-multi lainnya.
Fenomena Norway, dan beberapa kasus lainnya, sedikit banyak memperkuat pandangan saya dahulu bahwa keterbukaan informasi, salah satunya yaitu melalui media internet, yang idealnya membuat masyarakat semakin terbuka, malah sebaliknya kadang, sebagai salah satu eksesnya, juga menjadikan orang semakin extreme.
ALASANNYA?
Di dalam keterbukaan informasi, terutama dengan adanya media internet, segala macam informasi, baik positif-negatif, kiri-kanan, akan mudah kita ketemukan. Permasalahannya hanyalah informasi seperti apa yang ingin kita cari. Bila ada pepatah orang melihat hanya melalui kacamatanya, bila orang berpandangan A, sadar tak sadar ia akan mencari dan menemukan segala macam informasi yang mendukung pandangan A nya tadi.
Hal ini pulalah yang terjadi dengan si Anders Breivik ini. Pada dasarnya Anders Breivik mungkin telah memiliki pandangan yang ekstrim kanan, dengan akses informasi yang dimilikinya, alih-alih ekstrimnya berkurang malahan menjadi semakin kuat yang kemudian berkulminasi di peristiwa Norway tersebut.
SEMUA INFORMASI ADA DI INTERNET, TINGGAL INFORMASI SEPERTI APA YANG ANDA INGIN BACA DAN TEMUKAN!
Pun demikian juga halnya dengan peristiwa-peristiwa lain seperti bom bali dan lain-lain. Bukan tidak mungkin bahwa pelaku juga adalah orang yang melek informasi. Bila anda memang berniat menjadi pembom, di internet juga banyak informasinya. Dan bakal ada banyak pandangan dan informasi penguat keyakinan anda tersebut.
Sebelum salah ditafsirkan, PERLU DIGARISBAWAHI bahwa KETERBUKAAN INFORMASI, salah satunya dengan media internet, DENGAN SEGALA EKSES NEGATIFNYA, MASIHLAH MEMILIKI BANYAK HAL POSITIF BAGI UMAT MANUSIA.
Saya pribadi percaya bahwa ini memang salah satu fase yang musti dilalui umat manusia untuk kemajuan. Hanya saat ini tidak akan saya bahas. OK, lanjut ...
YANG PERLU DIGARISBAWAHI JUGA, dalam era keterbukaan informasi seperti ini, IDENTITAS PRIBADI dan KEKUATAN PRIBADI menjadi hal yang sangat penting. Karena hal inilah yang menjadi landasan utama bagaimana PRIBADI membentuk KEDIRIANNYA.
Apakah kita akan menjadi seperti Anders Breivik yang lain ataukah kita akan menjadi PRIBADI TERBUKA yang POSITIF, semuanya hanya bisa kita temukan di dalam DIRI KITA SENDIRI, bukan di INTERNET atau di LUARAN SANA.
Sebagai sedikit penutup untuk tulisan kali ini, saya pernah membaca satu tulisan yang intinya semacam ini:
We still live in hedgehog world. We can not live too close with one another without risking getting hurt. Seperti hedgehog yang tentunya tidak bisa terlalu berdekatan satu sama lain karena durinya. Pun demikian kita manusia. Keterbukaan informasi telah memaksa kita umat manusia untuk menjadi sangat dekat satu sama lain dengan hilangnya jarang dan sekat penghalang. Hanya kadang kita mungkin lupa bahwa kita masih sangat mudah terluka, dan dengan demikian mungkin kita tak sadar pula untuk semakin mempertebal kulit dan cangkang kita supaya tidak terluka, meskipun itu berarti melukai orang lain, seperti ekstrimnya tragedi Norway.
Sedikit permenungan saja.
ps: sebelum ngelantur, aku tutup aja ceramah ini, hanya rasanya gatel untuk nulis ini karena kepikiran dan sudah utang ke teman untuk nulis ^^
ps2: tulisan ini sejatinya ditulis untuk sebuah bahasan di sebuah trit di Forum Kompas, tapi rasanya menarik juga untuk di-share di sini
Thursday, July 21, 2011
id.Antasena v3.0
Sedikit iseng sore hingga malam hari ini, mencoba mengedit halaman lama, sayang aku tidak terlalu pandai bikin design, jadi ya beginilah jadinya. Idenya sih menyederhanakan tampilan v2.1 kemaren, dan sekaligus juga untuk mengikuti perkembangan template blog yang semakin canggih dan mudah. Theme yang digunakan di v2.1 sayangnya tidak mengakomodasi beberapa perkembangan yang ada, sehingga jadilah v3.0 ini. Sepertinya cukup mudah dan simpel untuk dibaca. Jadi untuk sementara aku akan gunakan theme ini, entah sampai nanti iseng lagi atau ada ide baru :)
Subscribe to:
Posts (Atom)
